Unak Anik Jabar

Patung Kuda Renggong Pertigaan Samoja, Simbol Budaya Asli Orang Sumedang

Nur Azis - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 09:19 WIB
Kuda Renggong Sumedang
Foto: Patung Kuda Renggong di Sumedang (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Sebuah patung yang memperagakan atraksi silat antara seorang pawang dan seekor kuda menghiasi Jalan Raya Bandung-Sumedang atau tepatnya di Pertigaan Samoja, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Patung itu dikenal sebagai Patung Kuda Renggong yang merupakan salah satu ikon kesenian asal Sumedang.

Patung Kuda Renggong didirikan pada tahun 1996. Patung tersebut menjadi simbol eksistensi kesenian Sumedang yang masih lestari dari zaman dulu hingga kini.

Dalam tesisnya Pratiwi Wulan Gustianingrum dan Idrus Affand; Memaknai Nilai Kesenian Kuda renggong dalam Upaya Melestarikan Budaya Daerah di Kabupaten Sumedang (2016) yang diterbitkan dalam Journal of Urban Society's Arts. Volume 3. Nomor 1. April 2016: 27-36, disebutkan bahwa Kuda Renggong merupakan seni pertunjukan gelaran (pawai). Kuda Renggong menjadi salah satu pertunjukan rakyat yang berasal dari Kabupaten Sumedang.

Disebutkan, Seni Kuda Renggong muncul pertama kali dari Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Hal itu berdasarkan keterangan dari para seniman. Bahkan kesenian Kuda Renggong telah didaftarkan di Balai Pelestarian Budaya Provinsi Jawa Barat sebagai kesenian unggulan dari Kabupaten Sumedang yang wajib dilestarikan.

Kuda Renggong SumedangPatung Kuda Renggong Sumedang Foto: Nur Azis/detikcom

Sedikit mengulas, Kata 'Renggong' berarti rereongan atau gotong royong. Renggong sendiri kerap diartikan sebagai metatesis dari kata ronggeng. Ronggeng dalam kamus KBBI diartikan sebagai tari tradisional dengan penari utama wanita, dilengkapi dengan selendang yang dikalungkan di leher sebagai kelengkapan menari.

Mengutip dari berbagai sumber, Tari Ronggeng telah berkembang di Pulau Jawa sejak dulu kala. Tari Ronggeng di Jawa Barat, ditandai dengan ditemukannya sebuah candi di Kampung Sukawening, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, bernama Candi Ronggeng atau para arkeolog menyebutnya dengan Candi Pamarican.

Sementara bukti perkembangan Tari Ronggeng di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Salah satunya bisa dilihat dari relief pada abad ke-8 di bagian Karmawibhanga di Candi Borobudur, Magelang. Dalam relief tersebut menggambarkan perjalanan sebuah rombongan hiburan dengan musisi dan penari Wanita.

Kata ronggeng mengingatkan juga pada novel karyanya Ahmad Tohari; Ronggeng Dukuh Paruk (Gramedia Pustaka Utama, 2003). Dalam novel itu dikisahkan bahwa seni ronggeng melalui tokohnya Bernama Srintil mampu menghidupkan kembali desanya yang miskin dan terpencil. Bahkan ronggeng menjadi perlambang denyut kehidupan bagi warga Dukuh Paruk dengan latar waktu 1960-an.

Kuda Renggong SumedangKoko (60) menjadi generasi kedua sebagai penerus dari pelopor kesenian Kuda Renggong di Wilayah Rancakalong, Sumedang (Foto: Nur Azis/detikcom)

Kembali ke tesisnya Pratiwi Wulan Gustianingrum dan Idrus Affand, ronggeng dalam seni Kuda Renggong merupakan kamonesan (bahasa sunda untuk keterampilan) cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik (terutama kendang) yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-arakan anak sunat.

Seni Kuda Renggong menampilkan pertunjukan berupa atraksi seekor kuda yang bisa menari mengikuti hentakan musik khas tradisional Sunda yang disebut Kendang Pencak. Kuda yang diarak biasanya berjumlah tiga sampai empat ekor kuda yang dinaiki oleh pemilik hajatan, sunatan atau perkawinan.

Selain menari, atraksi yang paling ditunggu yakni Silat KudaRenggongnya, berupa gerakan dimana seolah-olah kuda tersebut berkelahi dengan seorang pawangnya. Gerakannya, dari mulai berdiri dengan kedua kaki belakangnya sampai kuda tersebut rebahan di atas tanah.