Kisah Ibu di Sumedang Bertahan Jualan Rempah-rempah Selama 20 tahun

Nur Azis - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 11:03 WIB
Cerita ibu di Sumedang 20 tahun bertahann berjualan rempah-rempah
Cerita ibu di Sumedang 20 tahun bertahann berjualan rempah-rempah (Foto: Nur Azis)
Sumedang -

Penjual rempah-rempah umumnya mudah ditemui di pasar-pasar tradisional. Namun sangat jarang untuk seukuran warung di lingkungan warga yang khusus menjual rempah-rempah.

Seperti warung rempah milik Nining Ratna Ningsih (54) di Dusun Nanggerang, Desa Cinangsi, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang.

Sudah 20 tahun lebih ia berjualan rempah-rempah seperti ketumbar, merica, pala, kemiri, asem, bawang merah, bawang putih dan cikur. Bukan waktu yang sebentar pula hingga berjualan rempah menjadi pilihan jalan hidupnya.

Jatuh bangun dalam berjualan sudah dirasakannya. Warung miliknya tersebut, selain rempah, dulunya menjajakan beragam macam barang dagangan, seperti alat tulis, jajanan - jajanan kecil plus warung kopi.

Warungnya yang berada di pinggir jalan ini dulunya ramai dikunjungi oleh para pengendara yang ingin beristirahat. Seiring waktu dengan banyaknya warung-warung lain yang bermunculan, menjadikan warungnya sepi pembeli.

"Kalau dulu sambil jualan rempah seperti suami ngantar rempah ke pasar-pasar, ibu jualan kopi sama makanan-makanan ringan dan biasanya banyak sopir mampir ke sini sekedar istirahat, kalau sekarang saingan warungnya sudah banyak jadi warung saya sepi," ujarnya kepada detikcom.

Di tengah banyaknya persaingan, kata dia, beruntung masih ada barang dagangan lain yang tidak dijual di warung lainnya dan menjadi andalannya, yakni rempah-rempah. Warungnya ini menjual rempah dalam skala cukup banyak.

"Alhamdulillah masih ada rempah-rempah, Kalau tidak ada mungkin warung ibu sudah tutup dari dulu," ujarnya.

Ia menyebutkan rempah-rempah yang dijualnya berasal dari para petani Sumedang dan sekitarnya. Seperti merica dari Dusun Cilopang, Kecamatan Cisitu, Sumedang. kemudian jahe dan cikur dari Dusun Nanggerang, Kecamatan Cisitu, Sumedang dan Pala dari Kabupaten Subang yang didapatnya dari Pengepul di Dusun Panamur, Kecamatan Jatinunggal, Sumedang.

"Rempah - rempah itu ada yang dijemput langsung dari para petaninya, ada juga sistem antar ke warung miliknya," ungkapnya.

Selain dijajakan di warung miliknya, rempah yang ada, ia jajakan ke pedagang di pasar-pasar tradisional di Sumedang. 'The power of emak-emak' mungkin pantas disandangkan kepada ibu satu ini lantaran rempah-rempah yang ia jajakan ke pedagang-pedagang pasar, ia pikul sendiri dengan menggunakan karung.

"Sekali dua kali mungkin tidak akan terasa, tapi kalau terus-terusan panggul ini rempah, lama-lama otot keluar juga," ucapnya sambil tertawa.

Harga rempah per kilogramnya, ia jual untuk merica Rp100 ribu, bawang merah dan bawang putih Rp25 ribu, kemiri Rp35 ribu, jahe Rp15 ribu dan pala Rp30 ribu per seperempat kilogramnya. Dari hasil menjual rempah-rempah tersebut, diakuinya, telah mampu membangun rumah yang ditempatinya kini dan membantu untuk mencukupi segala kebutuhan sehari-hari termasuk biaya kuliah anaknya.

"Alhamdulillah dengan rempah ini, bisa bayar listrik, air, sekolah anak, tambah-tambah bangun rumah ini, banyak membantulah dengan berjualan rempah ini," terangnya.

Nining bersama suaminya kini telah memiliki empat orang anak, satu diantaranya masih kuliah sementara tiga lainnya telah menikah dan tinggal di Bogor. Suaminya sendiri kini tidak bisa lagi bekerja lantaran terkena penyakit stroke. Berjualan rempah menjadi penopang dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari, apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

"Sebetulnya ibu disuruh anak-anak untuk ikut tinggal bersama mereka tapi ibu tidak bisa kalau harus meninggalkan rumah dan usaha ibu ini," ucapnya.

(mud/mud)