Kisruh Keraton Kasepuhan, Walkot Cirebon Minta 2 Kubu Bijak Jaga Cagar Budaya

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 30 Agu 2021 14:19 WIB
Wali Kota Cirebon Nashrudin Aziz tak setuju nama provinsi Jawa Barat diubah
Foto: Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis (Sudirman Wamad/detikcom).
Cirebon -

Bentrokan antara dua kubu yang saling berebut takhta Keraton Kasepuhan Cirebon terjadi pada pekan lalu. Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis meminta agar kedua pihak yang berkonflik lebih mengedepankan urusan dalam melestarikan budaya dan cagar budaya di Keraton Kasepuhan.

"Memohon dengan segala hormat kepada seluruh yang bertikai ini untuk mendahulukan kepentingan yang lebih besar. Kepentingan bagaimana menjaga kelestarian budaya keraton, dan menjaga keraton sebagai cagar budaya," kata Azis kepada awak media usai rapat paripurna di DPRD Kota Cirebon, Senin (30/8/2021).

Azis mengatakan pihak yang berkonflik merupakan para pemangku budaya. Sehingga, lanjut dia, memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian dan cagar budaya.

"Pemerintah tidak bisa ikut campur soal itu (konflik perebutan takhta). Yang jelas, pemerintah akan hadir kalau sudah mengganggu cagar budaya. Karena, pemerintah berkewajiban melindungi cagar budaya," ucap politikus Partai Demokrat itu.

Azis berharap kedua kubu yang bertikai sadar akan pentingnya keraton sebagai warisan budaya. Sebab, lanjut dia, keraton bisa menjadi media belajar untuk mengenal sejarah dan keragaman budaya yang ada di Indonesia.

"Keraton itu aset dunia juga. Nah, pemerintah itu bukan hanya pemkot, legislatif dan kepolisian juga bagiannya. Saat ini kepolisian menjaga dan mengamankan, ini dari sisi menjaga cagar budayanya," kata Azis.

Seperti diberitakan sebelumnya, bentrokan hingga saling lempar batu antar kedua pengikut sultan yang berseteru, yakni Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin dan Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali pecah di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon pada Rabu (25/8/2021).

Sebelum terjadi bentrokan hingga aksi saling lempar batu antar pengikut sultan yang berseteru, yakni Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin dan Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali, perang argumen dan saling dorong terjadi saat Rahardjo Djali melantik perangkat kesultanan versinya. Keluarga dan pengikut dari Sultan Sepuh XV mendatangi acara pelantikan. Sebab, acara pelantikan merasa telah melanggar aturan yang ada.

(mso/mso)