Muncul Mural Bernada Kritik, Ridwan Kamil: Jangan-jangan Kita Jarang Dialog

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 27 Agu 2021 15:11 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menghadiri Halal bi Halal bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jabar dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jabar via konferensi video di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (21/5/2021).
Foto: Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Humas Pemprov Jabar).
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menanggapi terkait kemunculan mural bernada kritik. Menurutnya, seni ekspresi di ruang publik itu boleh saja dilakukan selama tak melanggar batas.

"Tradisi seni kota ini saya sangat senang ya. Dulu saat jadi walikota saya memberikan ruang, tiang Pasupati dimural, dinding Babakan Siliwangi dimural tidak masalah. Tinggal kita menyepakati secara etika, budaya dan batas-batasnya saja. Selama memenuhi kearifan lokal, etika saya kira tidak masalah," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil itu dalam konferensi pers virtual, Jumat (27/8/2021).

Kang Emil mengatakan memang mural dibuat untuk tujuan kritik sosial dan politik masih menjadi kontroversi. Walau demikian, ia tetap menilai bahwa mural adalah bagian dari dialog pembuatnya.

"Memang terjadi perdebatan, apakah mural kritik ini boleh atau tidak boleh. Saya kira media bisa menarasikan, mewacanakan dan mendiskusikan. Saya kira ini bagian dari dialog, jangan-jangan karena kita jarang dialog," ujar Kang Emil.

Menindaklanjuti masalah tersebut, rencananya Kang Emil akan mengundang sejumlah seniman untuk berdialog dalam menyepakati definisi kritik yang baik atau tidak. "Saya kira ini masalah kesepakatan budaya. Saya pribadi tak masalah, bahkan saya sering memfasilitasi," katanya.

"Yuk kita ngobrol, kita diskusikan seni ekspresi ruang publik itu batas-batasnya seperti apa, tentu itu ada batas yang harus disepakati," ucap Kang Emil melanjutkan.

Seperti diketahui, belakangan ini muncul mural-mural yang bernada kritikan di sejumlah daerah di Indonesia. Aparat pun bertindak responsif dalam menghapus mural-mural tersebut. Bahkan pihak kepolisian melakukan penelusuran kepada pembuat mural tersebut.

Budayawan Hawe Setiawan menyayangkan aksi represif aparat tersebut, sebab ungkapan dari gambar mural yang bermunculan merupakan wujud dari suara orang banyak.

"Menurut saya mural adalah suara moral. Hubungan keduanya dekat sekali, karena tradisinya dari dulu tembok atau dinding sudah dibuat sebagai medium untuk pencatatan, untuk penyampaian gagasan pikiran dari dulu, dari dulu tembok itu apalagi tembok di ruang publik kalau bukan buat dijebol ya buat digambari. Facebook juga pakai istilah wall ya," ujar Hawe saat dihubungi detikcom, Jumat (27/8/2021).

Berkaca dari sejarahnya, kata Hawe, mural biasanya digunakan oleh individu atau sekelompok orang yang tak memiliki saluran komunikasi yang mapan, namun ingin menyampaikan gagasan atau opini mereka. Menurutnya mural-mural yang muncul dan bernada kritikan atau realita wajar saja muncul apalagi di tengah pandemi seperti ini.

"Kalau sekarang banyak ungkapan di dalam mural, saya kira hal yang wajar atau lumrah karena banyak orang kesusahan dan banyak orang mengungkapkan kesusahannya di ruang publik," kata Hawe.

(yum/mso)