Antisipasi Karhutla, Balai TNG Ciremai Siapkan Puluhan Embung Air

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 15:04 WIB
Gunung Ceremai
Gunung Ceremai (Foto: detikcom)
Kuningan -

Potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus mengancam sejumlah titik di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Pihak TNGC pun terus menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menangkal musibah tersebut.

Kepala Balai TNGC Teguh Setiawan mengatakan ada sejumlah areal kawasan taman nasional yang sering terjadi karhutla yang diperparah oleh sulitnya mendapat pasokan air untuk memadamkan api.

"Kawasan TNGC terdapat titik rawan kebakaran yang sulit untuk mendapatkan pasokan air. Sebagian wilayah yang rawan tersebut adalah Blok Lambosir, Bintangot, Panyusupan, Karang Dinding, Cileutik, Pajaten, Batu Luhur, Kubang dan sekitarnya," kata Teguh saat dikonfirmasi via whatsapp, Selasa (24/8/2021).

Untuk mengantisipasi terjadinya karhutla di titik-titik rawan tersebut, TNGC telah menyiapkan puluhan embung air. Tercatat setidaknya ada 50 embung air yang disiapkan dan saat ini tersebar di dua Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN).

"Untuk embung air di SPTN 1 Kuningan ada 40 terdiri dari 14 embung alami dan 26 embung buatan. Untuk di SPTN 2 Majalengka ada 10 terdiri dari 6 embung alami dan 4 embung buatan. Untuk volume daya tampung air berkisar antara 1.000- 29.600 liter," ungkapnya.

Menurut Teguh, embung-embung tersebut diupayakan dapat diakses dari titik-titik yang sulit terjangkau pasokan air. Menurutnya dari peristiwa Karhutla yang pernah terjadi, proses pemadaman api selalu terkendala medan yang sulit.

"Biasanya tim pemadaman mendapatkan air dari pasokan mobil pengangkut. Namun sering terkendala medan yang sulit. Nah dengan adanya embung air ini dapat berfungsi sebagai cadangan dan pasokan air saat terjadi kebakaran hutan," jelas Teguh.

Masih kata dia, di Kawasan TNGC seluas 4.000 hektare wilayah lereng sebelah utara Gunung Ciremai menjadi yang paling berpotensi lantaran medannya yang terbuka dan banyak dipenuhi semak belukar.

Teguh mengungkapkan terjadinya karhutla sejauh ini disebabkan oleh adanya kelalaian manusia yang melakukan pembukaan lahan atau landclearing. Untuk itu Ia pun meminta masyarakat untuk bijak saat akan menyalakan api terlebih di musim kemarau seperti saat ini.

"Sebab utama dugaan kelalaian masyarakat dari kegiatan landclearing lahan masyarakat di perbatasan yang merembet ke kawasan TNGC. Ada juga dari pembakaran sampah yang tidak terkendali di batas kawasan," ungkapnya.

"Imbauannya selalu bijak dalam menggunakan api, terlebih saat ini sudah memasuki musim kemarau selalu waspada akan bahaya kebakaran hutan dan lahan yang akan merugikan kita semua," tutup Teguh.

(mud/mud)