Menengok Kantor Kewedanan Rengasdengklok Saksi Bisu Sejarah yang Terlupakan

Menengok Kantor Kewedanan Rengasdengklok Saksi Bisu Sejarah yang Terlupakan

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 10:50 WIB
Bangunan bersejarah di Karawang
Foto: Bangunan bersejarah di Karawang (Yuda Febrian Silitonga/detikcom).
Karawang -

Jelang siang, Shonco atau Camat Raden Soejono Hadipranoto mulai menyiapkan petugas untuk mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih, dan menurunkan bendera Hinomaru atau Jepang. Begitulah gambaran peristiwa pada 16 Agustus 1945, siang hari.

Dari buku 'Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945' karya Her Suganda, lokasi peristiwa tersebut terjadi di halaman Kantor Kewedanaan Rengasdengklok, yang saat ini berada di depan pasar tradisional Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.

Saat detikcom mengunjungi lokasi peristiwa tersebut, tampak ada dua bangunan, yakni gedung Kewedanaan dan aula. Kedua bangunan tersebut terlihat tidak terurus dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak ada papan nama atau pun penjelasan soal peristiwa 16 Agustus 1945. Sementara itu, halamannya hanya menjadi tempat parkir kendaraan roda empat dan roda dua pengunjung pasar. Selain itu di dalam aula bahkan lebih sering dipakai istirahat pengemis, gendalangan, pengamen, dan pengepul limbah botol minuman.

ADVERTISEMENT

Menapaki langkah ke dalam kantor Kewedanaan, di dinding bilik terlihat banyak coretan. Lantai kayu nampak sebagian sudah retak, berlubang dan membahayakan orang yang menginjaknya.

"Sangat disayangkan memang, kantor Kewedanaan tidak terawat dengan baik, padahal dulu kami juga sempat mengadakan kegiatan di lokasi ini, dari mulai rilis buku, sampai pameran lukis dan fotografi. Tujuannya agar Kewedanaan bisa diperhatikan publik dan pemerintah bukan hanya menjadi gedung kosong," ungkap Dharma Putra Gotama, Koordinator Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang (FPPSK), saat diwawancarai, Selasa (17/8/2021).

Dharma mengungkapkan, dari buku 'Rengasdengklok, Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945', Raden Soejono Hadipranoto, selaku pemimpin upacara peristiwa tersebut sempat diwawancarai. Hadipranoto mengakui mendapat perintah dari Soekarni, Dokter Soedjipto, dan Singgih, agar segera mengabarkan kemerdekaan Indonesia dengan membuat upacara pengibaran bendera Merah Putih dan menurunkan bendera Jepang.

Bangunan bersejarah di KarawangBangunan bersejarah di Karawang Foto: Yuda Febrian Silitonga

"Dalam buku karya Her Suganda, yang begitu lengkap menuliskan kisah peristiwa penurunan bendera Jepang di Rengasdengklok, bahkan Hadipranoto menuturkan diperintah oleh Soekarni, Dokter Soedjipto, dan Singgih agar menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih, dan penurunan bendera Jepang," katanya.

Hadipranoto saat itu kaget dan bingung diperintah oleh tentara PETA, untuk menghadap ke Chudan (Kompi) pada pagi hari. Namun, Hadipranoto merasa panggilan tersebut ada hubungannya rencana pertemuan membicarakan tentang cadangan padi yang berhasil dikumpulkan dari para petani.

"Setibanya di Chudan, Hadipranoto dipersilahkan menunggu di salah satu rumah yang biasa ditempati Chudanco (Komandan Kompi), di situlah datang sosok Soekarni yang digambarkannya berpakaian preman, dan dua orang berpakaian militer PETA, yakni Dokter Soedjipto, dan Singgih, datang dengan singkat, dan tergesa-gesa, lalu memerintah Hadipranoto untuk menggelar upacara menaikkan bendera Merah Putih," ucap Dharma.

Ada enam poin perintah saat itu; pertama, yakni menjelaskan perihal kedatangan Bung Karno beserta rombongan (Bung Hatta, Fatmawati, dan Guntur Mohammad Soekarnoputra yang saat itu masih bayi). Kemudian menerangkan bahwa Jepang sudah kalah berperang, sekutu akan datang, dan menguasai. Selanjutnya ketiga kekhawatiran akan sekutu menguasai Indonesia, oleh karenanya harus segera menyatakan merdeka, dan keempat, yakni dengan menyiapkan pengumuman bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka.

"Lalu, poin kelima, secara teknis, Hadipranoto diperintah menyiapkan bendera Merah Putih, dan mengumpulkan masyarakat, kemudian di poin akhir, saat bendera Jepang diturunkan, dan tergantikan bendera Merah Putih, Hadipranoto diperintah untuk berpidato dengan lantang, dan menjelaskan tentang kemerdekaan Indonesia," katanya.

(mso/mso)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads