Tak Hanya Jakarta, Penurunan Tanah Juga Terjadi di Bandung Raya

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 16:16 WIB
Jembatan Pasupati Bandung
Foto: Suasana Kota Bandung (Baban Gandapurnama-detikcom).
Bandung -

Penurunan tanah (land subsidence) tak hanya terjadi di Jakarta. Fenomena alam itu juga terjadi di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat dengan potensi bencana banjir.

Kabid Geologi Teknik pada Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Kementerian ESDM Wahyudin mengatakan wilayah di Indonesia terdiri dari susunan batuan yang bervariasi dan sebagian ada wilayah endapan aluvial atau relatif berusia muda.

"Seperti di pesisir Pantura sampai Semarang, Sumatera, Kalimantan, termasuk juga Bandung. Bandung juga dataran itu daerah yang dihasilkan akibat pengendapan danau purba. Memang dari segala keteknisan itu merupakan daerah yang masih belum terkonsolidasi sempurna, pemampatan secara alami," ujar Wahyudin saat dihubungi detikcom, Kamis (5/8/2021).

Wahyudin mengatakan ada juga sejumlah faktor yang mempercepat terjadinya penurunan tanah di antaranya pembebanan, akibat pengambilan air tanah, atau aktivitas tektonik.

"Sebetulnya sama di wilayah Bandung ini di daerah dataran Bandung seperti Dayeuhkolot, Baleendah, bagian barat sekitar Gedebage, sebagian wilayah Majalaya dan Cileunyi juga. Kita ada peta geologi kuartal yang merupakan daerah endapan danau purba ya," katanya.

"Di daerah tersebut memang terjadi potensi mengalami penurunan ya, tapi penuruannya bisa bervariasi ada yang tebal ada yang sedang dan ada yang relatif tipis proses penurunannya itu," tutur Wahyudin melanjutkan.

Ia mengatakan untuk daerah di pusat Kota Bandung ke arah Bandung Utara kecenderungan terjadinya penurunan tanah mengecil karena lapisan tanah vulkanik yang lebih solid.

"Seperti wilayah Antapani itu daerah transisi antara aluvial dengan dataran ya, kalau dari sisi prosesnya itu berada di pinggiran Danau (purba) Bandung, kala udari faktor kemungkinan perlu data yang lebih banyak lagi ke wilayah utara semakin mengecil atau wilayah Bandung Utara," katanya.

Terkait potensi bencana, Wahyudin mengatakan apa yang dihadapi Bandung Raya berbeda dengan DKI Jakarta atau wilayah pesisir lainnya. "Kalau dari sisi mitigasi sih yang jelas dengan wilayah pantai kelihatan karena berbatasan dengan wilayah air, kalau dengan wilayah close basin atau daerah bukan daerah pesisir, ancamannya resiko genangan banjir," tuturnya

"Itu tuh risiko semakin jauh seperti itu, artinya pola pengaliran sungai dari tempat tinggi ke tempat rendah, begitu ada yang lebih rendah lagi pastinya tertampung di situ, walau nantinya akan bergeser ke daerah yang lebih rendah lagi," ucapnya melanjutkan.

Sebelumnya, peneliti sekaligus dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengatakan fenomena penurunan tanah mulai terdeteksi sejak tahun 1980-an di wilayah cekungan Bandung.

"Penelitian kami dilakukan secara berkelanjutan dari tahun 2000, tiap tahun kita ukur dengan menggunakan citra satelit dan GPS," ujar Andreas saat dihubungi detikcom, Rabu, 4 Desember 2019.

Menurut Andreas, daerah yang terjadi penurunan tanah yang signifikan terjadi di Cimahi, Dayeuhkolot, Gedebage, Rancaekek, Majalaya, Banjaran dan Katapang.

"Kalau dijumlahkan sudah ada yang ambles hingga 3 meter, di beberapa tempat ada yang 4 meter. Fenomenanya bisa terlihat dari dinding dan fondasi rumah yang retak, ada juga rumah yang lokasinya jadi lebih bawah dari badan jalan," kata Andreas.

"Kalau di Cimahi, ada di Leuwigajah. Tepatnya di wilayah industri," ucap Andreas melanjutkan.

(yum/mso)