Berisiko Tinggi, Wanita Pangandaran Diimbau Tunda Kehamilan Saat Pandemi

Faizal Amiruddin - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 10:25 WIB
Ilustrasi ibu hamil makan pisang
Ilustrasi (Foto: Getty Images/SanyaSM)
Pangandaran -

Jumlah ibu hamil yang terpapar virus Corona di Kabupaten Pangandaran ternyata cukup tinggi. Pemerintah menyarankan menunda dulu kehamilan.

Dokter spesialis kandungan RSUD Pandega Alexander Martin mengatakan selama periode bulan Juli lalu tercatat ada 44 ibu hamil yang harus dirawat di RSUD akibat positif COVID-19 dan 50 ibu hamil lainnya menjalani isolasi mandiri. Salah seorang ibu hamil bahkan ada yang meninggal dunia.

"Cukup banyak ibu hamil yang terpapar COVID-19. Kalau di awal-awal pandemi hanya satu dua orang. Tapi di akhir Juni sampai Juli ada lonjakan. Yang dirawat ada 44 orang kemudian yang isolasi mandiri ada sekitar 50 orang," kata Alex, Rabu (4/8/2021).

Dia mengatakan penanganan COVID-19 bagi ibu hamil jelas berbeda dengan pasien lain. Penanganan harus juga memperhatikan keselamatan janin yang dikandungnya. "Pemberian obat harus diawasi, pemantauan kondisi kesehatan juga harus lebih intensif," kata Alex.

Sementara itu terkait persalinan, Alex mengaku saat ini melakukan tindakan operasi caesar atau persalinan normal ibu yang positif COVID-19 dilakukan di ruang operasi darurat. "Sekarang dilakukan di ruang operasi darurat. Tak bisa disatukan dengan operasi biasa," kata Alex.

Namun demikian Alex mengatakan saat ini manajemen RSUD Pangandaran tengah melakukan pembangunan atau penataan salah satu ruangan untuk dijadikan ruang operasi khusus pasien COVID-19.

"Manajemen sedang menyiapkan ruang operasi khusus bagi pasien COVID-19, jadi ke depan ada ruang operasi khusus untuk tindakan operasi pasien COVID-19," kata Alex.

Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pangandaran Heri Gustari mengimbau masyarakat untuk menunda kehamilan di masa pandemi COVID-19."Kampanye menunda kehamilan di masa pandemi tersebut berdasarkan arahan dari BKKBN," kata Heri.

Heri menambahkan, pihaknya gencar menyosialisasikan kepada masyarakat untuk sadar menggunakan alat kontrasepsi."Agenda menunda kehamilan juga menjadi tugas kami dalam menyukseskan program Keluarga Berencana," tambahnya.

Heri mengakui hamil pada saat pandemi Covid-19 tidak dilarang, namun akan lebih bijak jika pasangan usia subur untuk menunda rencana memiliki momongan hingga pandemi COVID-19 usai. Alasannya kondisi ibu hamil rentan terkena COVID-19 dan lebih berisiko mengalami gejala yang berat serta memerlukan perawatan intensif.

"BKKBN memaparkan ada tiga faktor yang harus menjadi perhatian khusus pada masa pandemi COVID-19 yaitu kesehatan, ekonomi dan psikologis," kata Heri.

Faktor kesehatan karena daya tahan tubuh saat hamil menurun. Jika terpapar penggunaan obat harus hati-hati dan layanan fasilitas kesehatan saat ini masih fokus menangani pasien COVID-19.

Faktor ekonomi berkaitan dengan kebutuhan pokok ibu hamil dan ibu menyusui sangat tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut membutuhkan asupan gizi dan vitamin akan bertambah satu anggota keluarga dan akan menambah pengeluaran keluarga.

Sementara faktor psikologi untuk ibu hamil pada masa pandemi COVID-19 akan menimbulkan kecemasan yang berpengaruh pada psikologi ibu hamil dan menyusui. Belum lagi situasi pembatasan kegiatan akan membuat risiko stres yang dialami ibu hamil akan tinggi.

"Makanya kami mengimbau untuk menunda kehamilan. Namun kalau pun hamil, disarankan untuk memantau kehamilannya oleh tenaga kesehatan. Baik itu bidan atau dokter kandungan," kata Heri.

Simak juga video 'Rekomendasi Kemenkes, Ibu Hamil Sudah Boleh Divaksin Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)