PPKM Diperpanjang, Pelaku Wisata Sumedang Akan Kibarkan Bendera Kuning

Nur Aziz - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 17:41 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Sumedang -

Bagi warga Kabupaten Sumedang jangan kaget, jika besok, Rabu (4/8/2021), melihat banyak bendera kuning berbahan kertas wajik di sejumlah hotel, restoran, kafe dan tempat wisata.

Itu bukan ada orang yang meninggal dunia, melainkan sebagai aksi protes para pelaku usaha pariwisata di Sumedang atas kebijakan pemerintah yang memperpanjang PPKM level 4 di Kabupaten Sumedang.

Informasi tersebut diperoleh detikcom dari Forum Komunikasi Pariwisata Sumedang seusai mereka melakukan kegiatan audiensi bersama Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir terkait kebijakan Pemerintah Pusat tersebut.

Seperti diketahui, bendera berbahan kertas wajik biasa digunakan oleh kebanyakan masyarakat di Jawa Barat sebagai tanda adanya orang yang meninggal dunia. Bendera ini biasanya akan dipasang di gang-gang, pagar-pagar rumah dan tempat lainnya.

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Nana Mulyana mengatakan, bendera kuning dipilih lantaran memiliki pesan lebih kuat dibanding bendera putih. Jika bendera putih diinterprestasikan sebagai simbol menyerah maka bendera kuning bagi pelaku usaha pariwisata Sumedang mengandung dua arti, yakni bisa terus mati atau bisa kembali bangkit di tengah pandemi Covid-19 ini.

"Bisa berhenti kalau pemerintah terlambat memberikan pertolongan, sementara bisa bangkit kalau pemerintah care dan berupaya untuk menyelamatkan para pelaku usaha," terang Nana.

Nana menyebutkan, aksi pengibaran bendera kuning akan dilaksanakan di sejumlah lokasi wisata, hotel, restoran, kafe, tempat kegiatan seni budaya dan biro perjalanan pariwisata. Hal itu sebagai bentuk protes kepada pemerintah pusat yang telah memasukan Sumedang pada kebijakan PPKM level 4, padahal Sumedang sendiri saat ini berstatus oranye atau semestinya berada di Level 3.

"Kami menyayangkan karena sebetulnya sumedang ini sudah berada di level 3 yang artinya kami bisa berusaha lagi. Destinasi wisata, cafe, restoran bisa buka meskipun dengan persyaratan pembatasan dan prokes, tapi harapan ini sia-sia karena Sumedang jadi masuk PPKM level 4 lagi," ungkapnya.

Berdasarkan data dari Forum Komunikasi Pariwisata Sumedang, jumlah destinasi wisata di Sumedang tercatat ada 35 tempat yang masuk dalam daftar Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), jika digabungkan dengan data dari Karang Taruna dan kelompok penggerak pariwisata (Kopepar) maka ada seratusan lebih tempat wisata yang terkena dampak PPKM ini.

"Jumlah hotel ada sekitar 80 sampai 90 hotel. Sementara jumlah kafe dan restoran ada ratusan jumlahnya," ujar Nana.

Menurutnya, perpanjangan PPKM level 4 di Sumedang hanya semakin memperpanjang penderitaan bukan hanya kepada para pelaku usaha namun juga kepada warga Sumedang yang terkena imbas dari PHK perusahaan.

"Bagaimana nasib mereka yang terkena PHK, masalah yang sama bagi kami selaku pelaku usaha, kewajiban yang harus kita hadapi bukan hanya soal perbankan tapi kita juga harus memikirkan overhead cost seperti listrik, internet dan sebagainya. Terus dengan interval waktu yang panjang ini sangat berat buat kami," terangnya.

Saat ini saja, lanjut Nana, para pelaku usaha di bidang perhotelan, sebagian besarnya telah melakukan PHK sebanyak 80% karyawannya. Kemudian, Para pengelola tempat wisata yang saat ini hanya mempekerjakan 15% sampai 20% karyawannya.

"Seperti hotel Puri Katulistiwa sudah memangkas karyawannya sampai 80%, hotel Bandung Giri Gahana sudah lebih dulu, hotel Sahid dan hotel lainnya," pungkasnya.

Aksi pengibaran bendera kuning sendiri rencananya akan dimulai pukul 10.00 WIB.

(mud/mud)