Jejak Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda dari Kalangan Menak Sumedang

Nur Azis - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 08:41 WIB
Bukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda.s
Foto: Bukti Literatur Surat Kabar Berbahasa Sunda-Belanda pada Harian Simpaj di Sumedang pada masa Kolonial Belanda (Istimewa).

Perbedaan lainnya terletak dalam penggunaan bahasanya. Surat kabar Simpaj Bandung menggunakan Bahasa Sunda dan Melayu, sementara surat kabar Simpaj Sumedang menggunakan bahasa Sunda dan Belanda.

"Dalam surat kabar Simpaj yang dikelola oleh Perkumpulan Saudara Sumedang, penggunaan bahasa Sunda-Belanda justru dicampur dalam satu tulisan. Misalnya, sebuah tulisan mengenai biografi singkat Pangeran Aria Soeria Atmadja, mula-mula ditulis dengan bahasa Belanda lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda," terangnya.

Kendati demikian, kata dia, kedua media massa tersebut telah memberikan warna bagi perkembangan media berbahasa Sunda dari masa ke masa.

"Apalagi, kedua media itu memiliki corak dan ciri khas yang berbeda," ucapnya.

detikcom, sedikit mengurai kata menak dengan merujuk pada bukunya DR. Nina H. Lubis; Kaum Menak Priangan 1800-1942 (1998). Dijelaskan, bahwa kaum menak disematkan kepada kaum aristokrasi lokal pada abad ke-19 yang berada di bawah pengawasan Hindia Belanda dan diselingi Inggris selama enam tahun (1811-1816) pada masa kolonial.

Buku Het Adatrecht van Nederlandsch-Indie (Hukum Adat Hindia-Belanda) karya Cornelius van Vollenhoven (1874-1933), dalam bukunya Nina H Lubis dijelaskan, bahwa sebutan ménak yang pernah dipergunakan dalam tradisi Jawa, di daerah Sunda dipergunakan untuk menyebut semua orang yang sangat dihormati, baik para bangsawan maupun para pejabat tinggi.

Bangsawan sendiri ada yang dinyatakan sebagai bangsawan rendah atau disebut santana, diantaranya digelari asép, ujang, dan agus. Golongan bangsawan dan santana ini adalah keturunan raja-raja terdahulu atau keturunan raja-raja kemudian di wilayah sunda.

Karya Cornelius Van Vollenhoven sendiri menjadi sebuah adikarya yang saat ini sering dijadikan acuan utama dalam hal hukum adat di Indonesia.


(mso/mso)