Jabar Hari Ini: Ada Apa dengan Sahrul Gunawan-Objek Asing di Langit Bandung

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 21:17 WIB
Warga merekam penampakan benda asing terbang di langit Bandung
Objek asing tertangkap kamera di langit Bandung (Foto: tangkapan layar video)

Pengusaha Menyerah, Kibarkan Bendera-Jual Aset

Berbeda dari daerah lain di Jawa Barat yang ramai mengibarkan bendera putih, sejumlah pelaku usaha pariwisata kibarkan bendera kuning.

Pelaku pariwisata yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pariwisata Sumedang mengangkat bendera kuning sebagai sinyal matinya pariwisata di Kabupaten Sumedang.

Para pelaku usaha itu berasal dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA), Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ), Karang Taruna dan kelompok penggerak pariwisata (Kopepar), Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS) dan Asosiasi Pengusaha Karaoke Sumedang (APEKS).

Secara simbolis mereka memasang bendera yang terbuat dari kertas wajik kuning di pintu gerbang salah satu objek wisata Kampung Karuhun yang berlokasi di Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.

Ketua PHRI Kabupaten Sumedang Nana Mulyana menyatakan keprihatanannya atas dampak dari pandemi Covid-19 dan kebijakan PPKM yang berkelanjutan hingga mengancam kematian sektor pariwisata di Kabupaten Sumedang.

"Kami pelaku usaha khususnya pariwisata jika di gambarkan sedang ada di UGD semua, jika tidak ada tindakan dari pemerintah baik pusat atau daerah maka akan betul-betul mati," ungkapnya kepada awak media saat jumpa pers, Kamis (29/7/2021).

Terpuruknya sektor wisata di seluruh Sumedang, digambarkannya dengan tidak mampunya para pelaku usaha untuk membayar karyawan, operasional dan juga kewajiban lainnya.

"Sekarang Tinggal sejauh mana upaya pemerintah pusat atau daerah dalam upaya melakukan pertolongan kepada para pelaku usaha karena pandemi ini sudah berlangsung lama," terangnya.

Dia berharap pemerintah pusat atau daerah bisa memberikan izin kepada para pelaku usaha khususnya pariwasata untuk bisa membuka kembali usahanya dengan standar protokol kesehatan yang berlaku.

"Kalau hanya bantuan langsung itu sifatnya stimulus saja atau sifatnya sementara tapi kalau memberikan izin buka lagi itu demi keberlangsungan usaha pariwisata di Sumedang," paparnya.

Dengan dibukanya sektor pariwisata, tambah dia, para pelaku usaha pun siap membantu pemerintah kaitanya dalam mensukseskan percepatan vaksinasi dan pembangunan ekonomi di Kabupaten Sumedang.

"Sehingga vaksinasi bisa tercapai dan kebangkitan ekonomi pun bisa tercapai," pungkasnya.

Jual Aset

Bendera putih sudah dikibarkan oleh para pengusaha di Jawa Barat. Mereka yang tercekik lakukan upaya terakhir dengan menjual aset.

Pemilik objek wisata Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang Eko Suprianto menjual koleksi burung yang ada di obyek wisatanya. Hal tersebut dilakukan, akibat dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Jabar Herman Muchtar menilai, hal itu wajar dilakukan bagi pengusaha yang masih memiliki aset.

Menurutnya, hal itu terjadi karena kondisi pengusaha hotel, restoran hingga wisata di Jawa Barat terseok-seok akibat pandemi COVID-19 ini.

"Itu wajar saja, sekarang orang kau jual hotel, restoran, jual tanah, rumah, hingga kendaraan, bagi yang punya aset," kata Herman via sambungan telepon, Kamis (29/7/2021).

Herman berujar yang jadi masalah itu pengusaha yang sudah tidak memiliki aset. "Bagi yang enggak punya aset gimana coba? Apa yang harus dijual, akhirnya burung-burungnya yang dijual," ujarnya

"Kondisi ini sudah banyak terjadi, yang jadi masalah yang enggak punya aset. Macam restoran banyak yang nyawa tempat, mana mungkin sewa bisa gratis," tambahnya.

Tak hanya itu, seperti PHRI Garut yang memasang bendera putih dengan emoticon menangis, menunjukkan jika para pengusaha hotel dan pariwisata di Garut sudah tidak berdaya.

"Pemerintah harus memperhatikan, apalagi kita dalam kondisi darurat Level 4. Pemerintah harus menerima, untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi pengusaha," jelasnya.

"Kebijakan apa yang disiapkan pemerintah untuk menangani kondisi seperti ini," tuturnya.

Herman menyebut, kondisi sektor hotel dan restoran sudah parah.

"Memang sudah parah, sudah setahu setengah kondisi seperti ini, pengusaha ada daya tahanya, kalau daya tahannya habis mau ngapain lagi," ucapnya.

Pihaknya berharap, perhatian dari pemerintah untuk para pengusaha.

"Itu yang kita harapkan, Pemerintah harus memahami kondisi pengusaha menghadapi Covid-19. Dalam kondisi saat ini apa yang harus kita lakukan, pertama komunikasi Kota yang baik agar kuta bisa dalami kondisi mereka sehingga kita keluarkan kebijakan yang pas untuk dapat penyelamatan, penormalan kondisi perekonomian khususnya dibidang hotel dan restoran," pungkasnya.


(mud/mud)