31 Anak Cianjur Jadi Korban Kejahatan Seksual Sepanjang 2021

Ismet Selamet - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 14:34 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi kasus kejahatan seksual (Ilustrator: Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Cianjur -

Polres Cianjur mencatat pada 2021 atau selama tujuh bulan terakhir ini ada 27 kasus kejahatan seksual. Sebanyak 31 anak menjadi korban.

Berdasarkan data dihimpun detikcom, terjadi 231 kasus pidana selama Januari hingga Juli 2021 yang di antaranya 27 kasus persetubuhan terhadap anak, 27 kasus penipuan atau penggelapan, dan 25 kasus pengeroyokan.

Aksi kriminal terbanyak berlangsung pada Maret yang jumlahnya 38 kasus, kemudian April 36 kasus, dan Juni sebanyak 35 kasus. Sedangkan paling sedikit terjadi pada Juli ini yaitu 25 kasus.

Kasat Reskrim Polres Cianjur AKP Anton mengatakan aktivitas masyarakat yang lebih sering di dalam rumah saat pandemi COVID-19 ini menjadi salah satu pemicu terjadinya kasus kekerasan seksual. Faktor lainnya karena para anak di bawah umur yang tidak disibukkan dengan aktivitas sekolah karena belajar daring membuat aksi kriminal tersebut rentan terjadi.

"Dari data yang ada memang persetubuhan atau pelecehan seksual yang marak terjadi, bukan pencurian. Diduga karena aktivitas masyarakat yang lebih sering dilakukan di rumah," kata Anton, Kamis (29/7/2021).

Menurutnya pelaku tindak persetubuhan tersebut rata-rata merupakan lingkungan terdekat atau yang memiliki hubungan dekat. Misalnya pada Mei, polisi mengungkap kasus ayah memperkosa anak kandung yang berusia 13 tahun.

"Kalau pelakunya ayah kadung ada satu kasus, kebanyakan (kasus kejahatan seksual lainnya) oleh lingkungan sekitar seperti tetangga hingga pacar korban," ucap Anton.

Menurut Anton, total 27 kasus kejahatan seksual ini ada 31 anak yang menjadi korban. Kasus yang menyita perhatian yaitu lima anak dicabuli oknum pendidik.

"Untuk tahun ini korban paling banyak yang pelakunya guru ngaji, ada lima anak (korban). Selebihnya satu kasus, satu korban. Jadi total ada 31 anak yang menjadi korban kejahatan seksual," ujarnya.

Anton mengatakan perlu keterlibatan semua pihak untuk menekan kasus kejahatan seksual anak. Tidak hanya keluarga, tapi lingkungan sekitar, pemerintah setempat, dan tokoh agama.

"Semua harus ikut mencegah, jangan sampai anak ini terus menjadi korban. Meskipun dalam beberapa kasus dilakukan orang terdekat, tapi diharapkan lingkungan keluarga yang berperan aktif untuk mencegah," tutur Anton.

(bbn/bbn)