Lika-liku Penjemput Bantuan Oksigen dari Sumsel: Lewati Rimba-Sebrangi Laut

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 23:33 WIB
Perjuangan armada penjemput bantuan oksigen dari Sumsel
Perjuangan armada penjemput bantuan oksigen dari Sumsel (Foto: Istimewa)
Bandung -

Misi menjemput bantuan 85,8 ton oksigen untuk warga Jawa Barat dari Sumatera Selatan penuh perjuangan. Tim Posko Harian Oksigen Jabar harus melewati lautan, sungai dan rimba berikut lika-liku yang ada di lapangan.

Wakil Ketua Posko Harian Oksigen Jabar Begin Troys mengatakan, perjuangan sesungguhnya bermula ketika bantuan 85,8 ton oksigen dari Sumsel melalui PT OKI Pulp Mills (Sinar Mas Group) dilepas Gubernur Sumsel Herman Deru di Pelabuhan PT Gajah Unggul Internasional, Palembang pada Sabtu (24/7/2021).

Sebelum mengantarkan oksigen cair yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit, pihaknya harus mengirimkan terlebih dulu isotank tabung oksigen cair bantuan dari AICO Energi dan PT Serba Dinamik Indonesia (SDI) dari Kalimantan Timur ke Palembang.

Begini mengakui isotank oksigen cair ini agak sulit didapatkan, karena berasal dari industri yang spesifik. Untuk mendapatkannya harus berpacu dengan waktu karena kondisi darurat.

"Istilahnya kita ini berebutan isotank, tiga minggu lalu pasokan oksigen di rumah sakit mulai terbatas, kami sudah mengira ada kemungkinan defisit oksigen. Kami mengontak mitra yang memiliki isotank ini di Bontang, Kalimantan Timur. Dari 14 iso tank PT SDI, kami mendapatkan 7 iso tank, tugas kita selanjutnya adalah mencari pasokan oksigennya," kata Begin dalam keterangannya, Senin (26/7/2021).

PT OKI Pulp & Paper Mills yang berada di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan memiliki kapasitas oksigen cair 30 ton per hari. "Berdasarkan simulasi ini paling kompatibel dengan kapasitas iso tank yang kita punya, dari situ mulai disusun rencana teknis pengiriman," katanya.

Dari skema kerjasama yang disusun, suplai akan diberikan selama 3 bulan, setiap bulan satu isotank bisa melakukan perjalanan pulang pergi Palembang-Bandung sebanyak 4-5 kali. Dengan 7 iso tank, Posko Oksigen Jabar menghitung 81 kali pengiriman oksigen cair seberat 21 ton bisa mencapai 1600 ton dalam tiga bulan.

"Hitungan ini diasumsikan mengurangi defisit oksigen di Jawa Barat," kata Begin yang juga menjabat sebagai Direktur BUMD PT Migas Hulu Jabar ini.

Meski direncanakan demikian, fakta di lapangan berkata lain. Iso Tank yang seharusnya tiba di Tanjung Priok pada 17 Juli mengalami keterlambatan dan baru datang pada 21 Juli. Tujuh iso tank lalu diberangkatkan dari Priok menuju Palembang via Bakauheni.

"Mau keluar dari Tanjung Priok ada kendala, kami klarifikasi, 21 Juli jam 3 dinihari, akhirnya isotank bisa berangkat ke Sumatera Selatan," katanya.

Iso Tank yang bobotnya beratnya mencapai ton-tonan itu membuat truk trailer tak bisa segera meluncur menuju Palembang. Rombongan membutuhkan waktu 24 jam untuk sampai ke ibu kota Sumatera Selatan.

Perjalanan belum berakhir, karena oksigen cair menunggu di wilayah terpencil di kawasan OKI. Isotank kemudian dipindahkan ke kapal ponton untuk menyusuri Sungai Musi hingga ke OKI, perjalanan jalur sungai itu memakan waktu 16 jam.

Isotank terisi penuh di pabrik PT PTOKI Pulp & Paper Mills, total menurut Begin beratnya setelah diisi oksigen cair mencapai 40 ton.