Begini Modus Penimbun-Penjual Obat Corona Melebihi HET di Jabar

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 18:25 WIB
Polisi perlihatkan barang bukti obat COVIID-19  yang ditimbun dan dijual mahal.
Polisi perlihatkan barang bukti obat COVIID-19 yang ditimbun dan dijual mahal. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Bandung -

Lima warga di Jawa Barat dibekuk polisi usia menimbun dan menjual harga obat Corona yang melebihi harga eceran tertinggi (HET). Mereka meraup untung hingga puluhan juta rupiah.

"Dari perbuatannya seluruh pelaku memiliki omzet penjualan sebesar Rp 152.190.000 mendapat keuntungan antara Rp 1,7 juta sampai Rp 9 juta dengan keuntungan total dari seluruh pelaku Rp 54.937.000," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Arif Rahman di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Rabu (21/7/2021).

Dalam kasus ini, ada lima orang yang ditangkap yaitu ESF, MH, IC, SM dan NH. Mereka ditangkap tim Subdit 1 Indag yang dipimpin oleh Kasubdit AKBP Andry Agustiano di tempat dan waktu berbeda.

"Kasus ini menjadi krusial. Pengungkapan jaringan penjual obat yang dijual di atas HET dan tentunya tanpa izin edar," kata Arif.

Dalam perkara ini, masing-masing bertindak sendiri dengan modus yang berbeda. Obat-obatan yang ditimbun terdiri dari berbagai jenis seperti Avigan, Favikal hingga Oseltamivir.

Tersangka ESF misalnya, dia melakukan pembelian obat Avigan 200 mg dari salah satu apotik dengan harga sesuai HET. Dia kemudian menjual obat tersebut ke perorangan tanpa resep dokter dengan harga di atas HET Rp 60 ribu per tablet.

Kemudian tersangka MH yang bukan apoteker maupun tenaga kesehatan memperdagangkan obat dan alat kesehatan dengan cara menawarkan via status WA dan grup WA. Obat yang dijual antara lain Favikal, Ivermectin, Avigan, Fluvir, Oseltamivir dan Remidia.

Dia mendapatkan obat itu dengan cara membeli online dan menjual lagi dengan harga tinggi. Contohnya Favikal dan Favipiravir 200 mg dijual dengan harga Rp 10,5 juta per boks. Sedangkan harga sesuai HET Rp 2,1 juta per boks.

Lalu, tersangka IC dan SM menjual obat dan vitamin di atas HET. Keduanya yang merupakan direktur dan manajer suatu perusahaan mulai menjual obat dan vitamin melebihi HET sejak 8 Juli 2021. Mereka menjual obat harga mahal karena meningkatnya permintaan konsumen.

Adapun peningkatan permintaan pada obat jenis Favipiravir, Oseltamivir dan vitamin. Obat dan vitamin didapat dari klinik di Bandung dan di jual kembali di atas HET. Sehingga mereka mendapat keuntungan dari penjualan obat dan vitamin sebesar Rp 9 juta.

Sementara tersangka NH menawarkan obat dan alat kesehatan melalui WA. Adapun obat dan alat kesehatan yang ditawarkan berupa Favipiravir dan Avigen serta alat kesehatan tabung oksigen dan regulator di atas HET. Dia melakukan transaksi melalui ojek online.

Lihat juga video 'KH Maruf Amin Akui Ada Segelintir Kiai Tak Percaya Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(dir/bbn)