Perahu Terbalik Dihantam Ombak, 7 Nelayan Sukabumi Nyebur ke Laut

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 18:03 WIB
Perahu nelayan terbalik dihantam ombak, 7 nelayan nyebur ke laut
Perahu nelayan terbalik dihantam ombak, 7 nelayan nyebur ke laut (Foto: tangkapan layar video)
Sukabumi -

Perahu berisi 7 orang nelayan asal Kampung Pajagan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi terhempas ombak saat akan melaut. Nelayan yang berada di atas perahu nekat melompat ke laut karena perahu yang mereka tumpangi terbalik.

Peristiwa itu terekam kamera video warga dan viral, informasi diperoleh detikcom peristiwa itu terjadi pada Senin (13/7/2021). Tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu, namun tiga orang nelayan dikabarkan sempat tidak sadarkan diri usai diselamatkan warga.

"Kejadiannya itu sangat tragis juga membahayakan, karena waktu nelayan mau berangkat awalnya ombaknya bagus, setelah mesin jalan di tengah-tengah tanggulan itu mesinnya gagal (mati). Kemudian datang ombak besar sekitar 3 meter," kata Solihin, warga yang menyaksikan kejadian tersebut, Selasa (13/7/2021).

Solihin menyebut ada 7 orang nelayan di atas perahu, ia hanya mengenal 6 orang yang memang tinggal di sekitaran kampung nelayan Cikahuripan. Ia sendiri tidak tinggal diam begitu perahu tiba-tiba terbalik usai diterjang ombak.

"Ada Eeng, Suren, Rohit, Otang, Bojes dan Aden. Perahu yang dipakai jenis fiber, mereka mau nangkap lobster. Begitu terbalik, saya sontak bantu ambil tali berpelampung dan melempar ke arah mereka, pelampung ditangkap Eeng dan langsung ditarik, warga di sekitar juga pada ikut bantuin," ujar Solihin.

Seluruh barang bergarga nelayan hilang begitu juga dengan perlengkapan melaut yang mereka bawa. Perahu juga mengalami kerusakan.

"Perahu kebawa arus sampai ke kali muara seberang selatan perahunya rusak, ada yang pingsan dibantu pernapasan, sempat ada kasepuhan Abah Rawa disareatan dulu orangnya dimandiin sampai akhirnya sadar. Ada 3 orang yang kondisinya parah tapi enggak dibawa ke rumah sakit hanya sareat saja. kalau dibawa ke rumah sakit enggak akan diterima karena sedang COVID-19 (RS penuh)," lirih Solihin.

Sementara itu, Aji Troy tokoh sekaligus sesepuh nelayan di Kampung Cikahurpan mengatakan kondisi ombak di sekitar area dermaga dan tanggul break water memang kurang bersahabat. Selain banyak makan korban, banyak perahu nelayan yang rusak karena ombak.

"Ombak besar, sudah sering kejadian nelayan jatuh ke laut, jangkar lepas atau putus perahu nabrak batuan break water tanggul hancur. Ini sering sekali terjadi ya karena kondisi batuan break waternya (pemecah ombak), kurang bagus," kata Aji.

Aji berharap dengan kejadian tersebut pembangunan dermaga segera diperhatikan pemerintah pusat. "Sudah pernah ada kementerian, dirjen sampai propinsi. Tapi tidak ada perubahan tahun-ketahunnya, dibangun enggak korbanlah nambah banyak. Ada dibangun sedikit-sedikit kemudian mangkrak lagi," pungkas Aji.

Nelayan Curhat Bangunan Break Water Mangkrak

Lokasi 7 nelayan terjun ke laut saat perahu dihantam ombak setinggi 3 meter ternyata berada di area bangunan break water (pemecah ombak) yang mangkrak puluhan tahun. Bahkan lokasi itu pernah dikunjungi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada Maret 2019 silam.

Warga saat itu sempat curhat kepada Luhut seputar kondisi pembangunan dermaga yang mangkrak selama 21 tahun. 'Tanggungnya' pembangunan dermaga memperparah arus ombak yang awalnya normal.

"Rutinitas setiap ombak besar ada saja yang kecelakaan perahu. Itu biasa bagi nelayan menghadapi hal begitu, masyarakat sudah biasa. Pertama kondisi break water belum selesai belum tuntas kedua banyak pendangkalan pasir, ketiga ombaknya juga memang besar," kata Aji Mahpudin Troy tokoh sekaligus sesepuh nelayan Kampung Cikahuripan kepada detikcom, Selasa (13/7/2021).

Aji membenarkan, ia yang saat itu curhat ke Menteri Luhut soal pembangunan yang dicicil hingga mangkrak di area break water yang kini jadi sumber malapetaka seringnya kecelakaan laut yang dialami nelayan di kampungnya.

"Tahun 2000 dibangun, pokoknya selama saya menjabat kepala desa itu ada beberapakali dibangun, setelah saya tidak jadi kepala desa mandeg sampai sekarang. Kemarin kita ajukan lagi saya curhat lagi ke Pak Luhut sampai kami datang ke Jakarta bersama Bupati Sukabumi sampai kemudian akhirnya datang ke sukabumi mau dibangun enggak tahu kapan katanya tahun 2019,2020 sampai sekarang 2021," tuturnya.

Secara keseluruhan dikatakan Aji selama beberapa kali pembangunan sudah menghabiskan anggaran kurang lebih 40 milyar. Menurut perhitungannya, break water sampai beroperasi membutuhkan biaya sampai Rp 250 miliar.

"Pembangunan kalau tidak salah jumlah keseluruhan kurang lebih menghabiskan Tp 41 Miliar belum cukup. Maksimalnya itu Rp 250 miliar itu bisa dengan pengerukan, breakwater kokoh bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," ungkap Aji.

Lihat juga video 'Pencarian 14 Korban KMP Yunicee Terkendala Ombak Setinggi 4 Meter':

[Gambas:Video 20detik]



(sya/mud)