Terpidana Sabu 402 Kg Lolos Hukuman Mati, Pengacara: Lihat Secara Proporsional

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 14:09 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Foto: Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom).
Sukabumi -

Terpidana kasus sabu 402 kilogram lolos dari hukuman mati. Pengacara para terpidana tersebut berharap publik melihat masalah ini secara proporsional.

Ada enam pengacara yang ikut membantu meloloskan para terpidana dari hukuman mati. Enam pengacara itu, yakni Dedi Setiadi, Afrianto, Pedrick Hendrick Kanday, Dicki Dadi Murtiadi, Jajat Sudrajat dan Kirmansyah. Mereka berasal dari Kantor Hukum Bahari, Sukabumi.

Dalam kesempata ini mereka menepis segala tudingan miring terkait kasus tersebut. Mereka bahkan menyebut tudingan mengemuka bahkan cenderung mengaburkan fakta hukum di tingkat banding.

"Ternyata pertimbangan hukum kita digunakan oleh majelis hakim, memori kita digunakan. Saat ini ada stigma seolah kita pakai duitlah apalah, maksud saya (pandang) persoalan ini secara proporsional. Kita murni, mereka (terpidana) uang dari mana? Saya aja enggak dibayar, seluruh proses yang kami lakukan dibayar oleh kantor kuasa hukum kami," kata Dedi Setiadi mewakili kantor kuasa hukum Bahari, Kamis (1/7/2021).

Menurut Dedi, enam orang kliennya memiliki latar belakang kurang mampu. Mereka berprofesi sebagai nelayan dan petani. Apa yang diungkap, kata Dedi, bisa dibuktikan di antaranya Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM dari desa tempat para terpidana tinggal.

"Diajak nuker kapal di tengah laut, ternyata dijelaskan setelah di tengah laut bahwa itu sabu. Mereka tidak tahu dari awal, mau ngambil sabu kita tetap memunculkan itu, mereka bukan gembong narkoba, bukan sindikat narkoba, dibuktikan dengan SKTM," ungkap Dedi.

Dedi kembali mengungkap soal proses hukum mulai dari pengurusan 6 kilennya di Polda Meteo Jaya hingga proses sidang di tingkat pertama dan proses banding di PT Bandung. Seluruh pembiayaan ditanggung sendiri hingga patungan.

"Saya ke Jakarta (Polda) biaya sendiri, saya teman-teman patungan beli bensin, demi mereka. Tidak ada tujuan lainnya, saya memang dari kemarin kenapa saya mengawal perkara mereka itu dari mulai proses di Polda Metro Jaya, sampai banding itu panggilan hati nurani saya dan kawan-kawan. Karena mereka itu bukan gembong, bukan kartel atau apa, rumahnya mau reyot orang miskin gimana," ujar Dedi.

Menanggapi pihak kejaksaan yang akan kasasi, Dedi mengaku siap. Meski kejaksaan menyebut belum mendapat salinan putusan banding, Dedi mengaku kemungkinan jaksa tidak jemput bola soal putusan banding tersebut

"Kalau kami tidak harus menunggu, jemput bola lebih cepat diminta (salinan) putusan dan dokumen lainnya kami terima lengkap. Kalau kejaksaan atau yang lainnya menunggu barangkali seperti itu ya, makanya salinan putusan belum diterima, soal kasasi nanti kami siapkan memori kontra kasasinya," papar Dedi.

Dedi membenarkan sebelumnya ia hanya bersumber dari SIPP PN Cibadak. Menurutnya hal itu saja sudah menjadi acuan pihaknya untuk mengeluarkan statemen kepada publik karena SIPP juga bisa bebas diakses oleh publik.

"SIPP itu kan publik, itu kan buat publik dan bisa diakses, ada pertanggungjawaban dan ternyata sama antara SIPP dengan salinan putusannya," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, enam terpidana yang sebelumnya mendapat hukuman mati yang kini putusan banding mendapat hukuman 15 tahun masing-masing Ilan, Basuki Kosasih dan Sukendar alias Batak. Sementara untuk yang mendapat hukuman 18 tahun penjara masing-masing Nandar Hidayat, Risris Risnandar dan Yunan Citivaga.

(sya/mso)