Ratusan Dokter di Jabar Terpapar Corona, IDI: Masyarakat Banyak Abai

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 19:33 WIB
Ilustrasi Tenaga Medis COVID-19
Foto: Ilustrasi (Luthfy Syahban/detikcom).
Bandung -

Kasus COVID-19 mengalami lonjakan. Kondisi itu membuat tugas tenaga kesehatan semakin berat dan risiko terpapar virus tersebut juga tinggi.

Namun sayangnya masih saja ada warga yang abai untuk menerapkan protokol kesehatan. Padahal dengan disiplin terhadap prokes risiko penyebaran COVID-19 bisa sedikit teratasi.

"Sekarang ini semua tenaga kesehatan sangat berisiko tinggi terpapar, karena sedang puncak-puncaknya. Masyarakat banyak abai, tidak disiplin, tak mengikuti protokol, akibatnya puncaknya ke dokter atau tenaga kesehatan (di rumah sakit)," ujar Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Jawa Barat Eka Mulyana kepada detikcom, Kamis (24/6/2021).

Berdasarkan data yang dihimpun dari pengurus IDI se-Jawa Barat, pada Juni 2021 terdapat lebih dari 100 dokter umum dan dokter spesialis yang terkonfirmasi positif. Bahkan, ia menyebut di suatu RSUD lebih dari 10 dokter berbagai spesialis, terkena COVID-19 dalam waktu yang nyaris bersamaan.

"Belum termasuk tenaga kesehatan/perawatnya. Tentu ini berpengaruh kepada pelayanan di rumah sakit. Ini hampir di semua rumah sakit kondisinya sama," tutur Eka.

Menurut Eka, saat ini tak ada jalan keluar lain untuk mengatasi masalah ini kecuali menurunkan angka pasien COVID-19 yang masuk rumah sakit lewat pelaksanaan protokol kesehatan yang tegas di tingkat RT/RW bahkan kabupaten/kota.

"Diperketat dari tingkat RT/RW bahkan tingkat kabupaten/kota. Batasi pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain, WFH, resto atau tempat hiburan diperketat," ujar Eka.

Selain itu, pihaknya juga meminta agar vaksinasi bagi tenaga kesehatan ditingkatkan. "Bila perlu pemberian vaksinasi booster untuk tenaga medis atau kesehatan," katanya.

Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Jabar Marion Siagian mengatakan fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) di Jawa Barat bisa kolaps dalam waktu dua pekan, bila penerapan protokol kesehatan masih lalai diterapkan di tengah masyarakat.

"Karena saat ini kita sedang diuji, kalau hari ini kita masih lalai, ini bukan tidak mungkin dalam waktu dua minggu masih mengalami seperti ini (lonjakan kasus). Kalau kita masih seperti ini kita akan mengalami fase yang berat, dimana fasyankes kita bisa kolaps," tutur Marion dalam Podcast Juara.

(yum/mso)