98 RS Rujukan COVID-19 di Jabar Lampaui BOR 100 Persen

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 12:09 WIB
Ilustrasi Tenaga Kesehatan
Ilustrasi penanganan pasien COVID-19 (Ilustrator: Fuad Hashim)
Bandung -

Tingkat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit rujukan COVID-19 di Jawa Barat telah mencapai 88.51%. Dari data yang dirilis laman Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar), per tanggal 22 Juni 2021 telah terisi 13.213 tempat tidur (TT) dari total 14.928 TT.

Dalam laporan itu tercatat, 98 dari 325 rumah sakit di Jabar yang melayani pasien COVID-19 telah mencapai keterisian 100 persen. Bahkan 8 di antaranya telah melebihi ambang kapasitas maksimum, seperti RS Universitas Indonesia (UI) di Kota Depok yang BOR-nya telah mencapai 110.58% atau dari kapasitas 104 TT, tetapi telah terisi 115 TT.

Bila dilihat dari rumah sakit yang telah melewati batas 90 persen jumlahnya menjadi lebih banyak lagi. Dari 325 rumah sakit yang melayani COVID-19, 167 atau setengahnya memiliki tingkat BOR di atas 90 persen.

Sementara itu berdasarkan zonasi, tingkat keterisian rumah sakit yang paling banyak berada di kawasan Bandung Raya dengan 93,46%, diikuti Purwasuka (92,64%), Bodebek (87,21%), Ciayumajakuning (86%), Priangan Timur (84,38%) dan Priangan Barat (80,15%).

Jika dirinci per kota, tingkat BOR paling tinggi berada di Kabupaten Bandung (97,41%), Kota Tasikmalaya (96,94%), Kabupaten Purwakarta (96,15%), Kota Bandung (93,71%), Kabupaten Tasikmalaya (92,86%), Kota Bekasi (92,75%) dan kabupaten kota lainnya.

Pemprov Jabar berencana untuk menambah kapasitas TT di rumah sakit rujukan COVID-19 sebanyak 2.400 bed. Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Jabar Marion Siagian mengatakan, pihaknya sudah mengirim surat edaran ke rumah sakit untuk mengonversi 30-40 persen dari total kapasitas TT RS sebagai tempat tidur perawatan COVID-19.

"Kemudian di internal RS sendiri dilakukan refocusing tenaga-tenaga yang melayani non-COVID-19 untuk merawat pasien COVID-19 karena penambahan tempat tidur harus disertai penambahan SDM. Perawatan pasien COVID-19 juga membutuhkan penanganan dari tenaga-tenaga dari berbagai disiplin ilmu yang kompeten di bidangnya," kata Marion dalam Podcast Juara.

"Apalagi penanganan di ruang ICU. Butuh tenaga kesehatan yang memang kompeten dalam mengoperasikan peralatan di ICU. Mereka harus sudah terlatih. Setiap pasien COVID-19 di ICU membutuhkan pengawasan dokter dan perawat yang terus-menerus melakukan pemantauan terhadap status kesehatan pasien tersebut," ujar Marion melanjutkan.

Pemprov Jabar telah membuka rekrutmen Tim Relawan Medis Penanganan COVID-19. Rekrutmen dilakukan guna memperkuat SDM tenaga kesehatan di rumah sakit yang kini makin kewalahan karena menghadapi lonjakan kasus COVID-19.

Nantinya, relawan yang mendaftar akan ditempatkan di sejumlah rumah sakit khususnya di Bandung Raya. Seperti diketahui Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang juga Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Jabar menetapkan Bandung Raya dalam status siaga 1 akibat lonjakan kasus pascalibur Lebaran.

(yum/bbn)