Corona Menggila! Pilu Nenek Positif Dibonceng ke RS di Bandung

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 15 Jun 2021 18:56 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Ilustrator: Edi Wahyono)
Bandung -

Bingung dan frustrasi dirasakan Yusnia (26), warga Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, ketika mencari tempat merawat ibunya yang terpapar virus Corona. Pasalnya, kondisi sang ibu terus menurun sejak sepekan terakhir.

Yusnia mengatakan hampir setiap hari ibunya mengeluhkan sakit dada dan pusing. Ia pun disarankan petugas puskesmas untuk membawa ibunya ke rumah sakit, tapi pihak puskesmas pun angkat tangan soal rumah sakit mana yang bisa didatangi.

"Saya bingung harus bagaimana. Saya sempat menanyakan kondisi ibu ke puskesmas, saturasi oksigennya 90 persen. Katanya harus dibawa ke IGD, tapi saat dicari tak ada IGD atau ruang rawat yang kosong dari beberapa rumah sakit yang kami datangi," kata Yusnia saat berbincang dengan detikcom, Selasa (15/5/2021).

Yusnia pun pernah membawa ibunya ke sebuah rumah sakit swasta di Pasteur. Setelah menunggu berjam-jam di teras luar rumah sakit, tetapi panggilan untuk masuk ke dalam ruang IGD tak kunjung datang juga.

"Ya ibu datang jam setengah satu siang, Jumat pekan lalu. Sampai jam lima belum bisa masuk juga. Saat itu kondisinya hujan, ibu covid, jadi ungkan untuk menunggu di dalam lobi karena takut menularkan ke pasien lain," katanya.

"Akhirnya kami pulang karena hari sudah mau malam, tapi ibu yang merasa demam menunggu di luar tak bisa masuk ke IGD, itu membuat kami lebih bingung," ujar Yusnia menambahkan.

Alih-alih isolasi, suami dan kakaknya yang notabene merupakan kontak erat juga masih harus mencari rumah sakit yang tersedia. Pencarian rumah sakit berakhir dalam lima hari. "Akhirnya kami menemukan ruangan di RS Kebonjati Bandung," kata Yusnia.

Masalah tak berhenti di sana. Walau lebih lega karena ruangan bisa didapatkan, muncul kendala baru yakni bagaimana membawa pasien ke rumah sakit.

"Kami coba kontak rumah sakitnya, tapi ambulansnya tak tersedia. Kami juga coba cari ke puskesmas, tapi belum bisa juga," ucapnya.

"Sementara pihak rumah sakit menyebut ditunggu sampai jam sembilan pagi, kami harus cepat-cepat. Akhirnya nekat saja suami saya dan kakak mengantar ibu dengan menggunakan sepeda motor," tutur Yusnia menambahkan.