Kelompok Wanita Mandiri, Dampingi IRT Jadi Lebih Produktif

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 16:51 WIB
Seorang ibu tengah menjahit
Foto: Seorang ibu tengah menjahit (Muhammad Iqbal/detikcom).
Kabupaten Bandung -

Para ibu rumah tangga (IRT) sedang sibuk menjahit sebuah blazer di dalam Gedung SMK An-Nur, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Dengan serius mereka menjahit helai demi helai kain.

Di balik blazer yang rapi dan stylish itu, ada kisah sulit para wanita di Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung dalam mengarungi rumah tangga.

Salah seorang ibu menuturkan dirinya mengalami stres berat ketika harus ditinggal oleh suaminya secara mendadak karena meninggal dunia. Ketika itu, ia bingung harus melakukan apa untuk melanjutkan kehidupan keluarganya.

"Saya stres karena suami saya meninggal. Ketika itu saya bingung harus bagaimana, beruntungnya saya bertemu ibu Yanti dan Wanita Mandiri, hingga akhirnya saya bisa berdiri di sini," ucap seorang ibu dengan haru, Jumat (11/6/2021).

Pengalaman itu bukan hanya dialami satu orang. Seperti dituturkan Bety Rohaeti (36) yang kini sudah membuka usaha kue. Awalnya ia tidak bekerja. Namun melihat kondisi pekerjaan suami yang tidak menentu, ia memutuskan untuk membantu.

"Waktu itu saya inisiatif jualan karena banyak telur bebek yang gak termanfaatkan. Awalnya saya juga telur asin namun ke sini diarahkan untuk jualan kue basah, dan alhamdulilah bisa nyekolahin anak dari itu," ujar Bety.

"Kalau kata orang, uang suami milik istri, kalau saya tidak. Saya lebih milih saling (menutupi), jadi ketika suami enggak ada (uang) saya bisa bantu," ujarnya.

Para ibu rumah tangga itu mendapat secerca harapan lewat kelompok Wanita Mandiri. Wanita Mandiri merupakan kelompok yang berisikan IRT di daerah Ibun, Kabupaten Bandung. Banyak dari mereka yang tidak bekerja dan mengantungkan hidupnya kepada suami.

Wanita Mandiri diprakarsai oleh Yanti Lidiati. Yanti merupakan penggerak pemberdayaan perempuan dan anak di daerah tersebut. Dari kegigihannya sejak 2012, ia mendapatkan sejumlah penghargaan sebagai Perempuan Inisiator Indonesia 2020 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Yanti menuturkan bagaimana sulitnya meyakinkan setiap wanita di kampungnya untuk bisa produktif dan tidak tergantung kepada suami. Memerlukan waktu dan kesabaran agar para wanita dapat berpikir seperti itu.

"Akhirnya saya belajar, ternyata kita tidak bisa dari up to bottom tapi harus bottom up. Kita harus tahu dulu apa yang mereka butuhkan," kata Yanti.

"Saya berani membuat rule model itu karena sudah diimplementasikan di Lampung dan Balikpapan, ternyata rule model itu bisa dilakukan di mana pun, di semua tempat kata saya yang paling penting harus ada opinion leader, siapa penggeraknya," lanjut Yanti.

Menjadi penggerak, bagi Yanti, tidaklah mudah. Mereka harus mengesampingkan kepentingan pribadi untuk bisa menggerakkan masyarakat. Tidak ada kata sukses jika yang dibina oleh penggerak belum sukses.

"Kita hebat kalau kita menghebatkan orang lain. Kita akan sukses ketika diri kita bermanfaat untuk orang lain," ucap wanita yang juga sempat mendapatkan penghargaan pemberantas buta aksara dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020 lalu.

Yanti mengatakan, dirinya sering menemui sejumlah IRT yang mengeluh akan kondisi rumah tangganya. Dari mulai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga masalah ekonomi.

"Saya selalu melihat setiap orang punya masalah berbeda. Ketika ada yang sedang melamun, saya ajak bicara dan ternyata sedang ada masalah. Dari sana saya bisa lihat mereka memiliki keinginan untuk bangkit dan saling membantu dalam rumah tangga," tuturnya.

Dari kejelian dan kesabaran itu pula, Wanita Mandiri terus berkembang. IRT yang memiliki kemampuan menjahit diarahkan untuk membuat sebuah blazer berbahan sarung.

"Alhamdulilah kami saat ini ada 22 produk hasil karya ibu-ibu yang bisa kami banggakan. Kami tidak mematok harga, kembali kepada pembeli, harga itu tanda seberapa besar pembeli menghargai karya kami," ucapnya.

(mso/mso)