26 Warga Lembang Positif Corona, Sekda KBB Soroti Prokes

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 04 Jun 2021 20:45 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Ilustrator: Edi Wahyono)
Bandung Barat -

Jumlah warga Kampung Ciburial RW 03, Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang terkonfirmasi positif COVID-19, bertambah 10 orang menjadi 26 orang.

Penambahan kasus itu setelah hasil swab test antigen dari warga lain yang menjadi kontak erat diterima oleh pihak Puskesmas Cikole, pada Jumat (4/6/2021). Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung Barat Asep Sodikin mengatakan pihaknya tidak akan menerapkan lockdown pada lingkungan tempat tinggal warga yang terpapar COVID-19 tersebut.

"Kami tidak akan melakukan lockdown. Tapi kami pasti koordinasi dengan Satgas COVID-19 desa," kata Asep.

Kendati demikian, pihaknya sudah memerintahkan agar warga yang terpapar melaksanakan isolasi mandiri dengan pengawasan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat. "Sesuai dengan SOP, pasti itu harus segera dikarantina. Nanti petugas surveilans dari Dinkes dan Puskesmas setempat akan melakukan tracking kontak erat. Tapi yang pasti mereka harus dikarantina dulu semuanya," jelasnya.

Penambahan kasus COVID-19 di kampung tersebut terjadi di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro di KBB. Asep menegaskan jika hal itu bukan berarti bahwa PPKM skala mikro di KBB hanya sekadar formalitas.

"Bukan formalitas, PPKM mikro itu sudah upaya yang terbaik. Presiden juga mengingatkan kenapa kita mengambil kebijakan itu, karena melihat di luar juga. Di India itu kan awalnya banyak, mereka pun melakukan seperti PPKM ini, penurunannya drastis," ujarnya.

"Namun kembali lagi, dengan PPKM Mikro ini diharapkan sosialisasi protokol kesehatan bisa lebih dekat ke masyarakat. Kalau kami dari Pemda KBB juga meminta Satgas COVID-19 di kecamatan dan desa dikerahkan untuk menekan penyebaran COVID-19," kata Asep menambahkan.

Asep menyebut kemunculan kasus COVID-19 di KBB bakal menjadi bahan evaluasi. Namun pihaknya menduga jika penambahan kasus COVID-19 karena ketidakdisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan.

"Kalaupun ada kasus, ya nanti kami teliti lagi. Namun saya menduga karena ketidakdisiplinan 3M itu. Kemarin ada kabar di Rongga ada hajatan, berarti kan tidak diterapkan 3M itu. Padahal kami sejak awal sudah mengingatkan kurangi kerumunan, pakai masker, rajin cuci tangan. Namun, di desa itu kan susah. Itu yang masih perlu disadarkan terus," tutur Asep menegaskan.

(bbn/bbn)