Mengenal Siti Maryati, Pemburu Sampah Plastik di Pesisir Palabuhanratu

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 08:42 WIB
Melihat pemburu sampah plastik di pesisir teluk Palabuhanratu Sukabumi
Melihat pemburu sampah plastik di pesisir teluk Palabuhanratu Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi -

Langkah Siti Maryani (42) gontai, satu karung besar ia angkut di pundak sementara tangan kirinya menyeret karung berukuran sedang. Kedua karung itu berisi botol dan gelas kosong beka air dalam kemasan yang ia peroleh hari ini di pesisir teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Siti Maryani adalah pemulung musiman yang sengaja datang ke lokasi wisata Palabuhanratu bersama suaminya Yusuf (45). Tiap libur lebaran, mereka mendirikan tenda terpal berdekatan dengan lokasi wisata. Kondisi itu memudahkan mereka setiap kali menyisir botol dan gelas plastik yang dibuang sembarangan oleh wisatawan.

"Berangkat sehari sebelum lebaran, lalu salat Idulfitri di Palabuhanratu. Sengaja datang dengan suami dan anak, cari sampah dari pantai sekalian bersih-bersih juga sampah plastik kan," tutur Siti, di pesisir lokasi wisata Karang Hawu, Selasa (18/5/2021).

Ia menyebut sudah menjalani aktivitas seperti itu selama 10 tahun, profesi suami istri itu sehari-harinya memang sebagai pemulung. Berbeda dengan aktivitas memulung di jalanan, di lokasi wisata menurut mereka lebih menjanjikan karena sampah plastik hanya terpusat di lokasi yang ramai dengan wisatawan.

"Kalau dijalanan kami harus jalan kaki dengan jarak lumayan, kalau di lokasi wisata kami cukup datang dan mengumpulkan. Tidak jarang juga kami ikut bebersih sampah lain kemudian dibakar," tuturnya.

Warga Kampung Pangadegan RT09/08, Desa Sunda Wenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi itu rencana hanya akan bertahan selama dua minggu. Biasanya para pengepul besar akan datang menjemput hasil mereka memulung dan membayarnya di tempat.

"Kami hanya beroperasi selama dua minggu, barang yang kami kumpulkan biasanya diambil sama pengepul besar. Hasilnya lumayan, ya Alhamdulillah selama bisa untuk keperluan rumah, sehari rata-rata Rp 50 ribu," ungkap dia,"

Tenda yang jadi tempat tinggal sementara Sumarni, anak dan suaminya terbuat dari terpal dengan penyangga dari kayu-kayu bekas yang mudah didapat dari sekitar lokasi. Ketika air laut pasang, tenda tersebut mereka geser dengan mudah.

"Kemarin air sempat pasang, tenda kami pindah agak jauh. Ya mau bagaimana lagi, yang penting bisa tinggal sementara sama anak dan suami. Kalau enggak ke sini sayang, namanya rejeki yang penting halal ya kami kerjakan," pungkasnya.

(sya/mud)