Ditutup Akibat Kerumunan, Begini Respons Pengelola Wisata Ciwidey

Muhammad Iqbal - detikNews
Minggu, 16 Mei 2021 20:24 WIB
Pengelola objek wisata di Ciwidey angkat bicara soal penutupan
Pengelola objek wisata di Ciwidey angkat bicara soal penutupan (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Sebuah rekaman video yang menunjukkan kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan di lokasi pemandian air panas Ciwidey ramai di media sosial. Akibatnya, lokasi wisata di Ciwidey dan sekitarnya harus ditutup sementara.

Rekaman video tersebut menunjukkan, kerumunan pengunjung kolam rendam air panas Walini nampak berkerumun. Pengunjung terlihat tidak mengamalkan masker dan berisiko terjadi penularan COVID-19.

Salah satu pengelola Glamping Lakeside Marcelinus mengatakan, pihaknya menerima keputusan pemerintah daerah yang menutup sementara lokasi wisata. Namun, ia meminta agar pemerintah dapat memberikan keputusan yang proporsional.

"Untuk penutupan objek wisata sebetulnya kita meminta pemerintah lebih proporsional. Tapi kita juga mendukung kebijakan pemerintah sejak awal pandemi. Bahkan setiap hari, kami melakukan fogging disinfektan," kata Marcelinus kepada wartawan di Glamping Lakeside, Kabupaten Bandung, Minggu (16/5/2021).

Marcelinus mengatakan, dengan adanya penutupan objek wisata tersebut memberikan dampak lebih kepada finansial bagi sejumlah pengelola wisata. Marcel mengatakan, dari keseluruhan objek wisata yang dikelolanya di Ciwidey ditaksir kerugian per hari mencapai Rp 100 juta.

"Kerugian kalau tutup dalam per hari sekitar Rp 100 - 200 juta," ungkap Marcel.

Bahkan, tidak sedikit yang membatalkan reservasi menginap di perkemahan Glamping Lakeside. Ia pun terpaksa harus mengembalikan uang atau mengganti jadwal menginap bagi wisatawan.

"Kami juga ada refund dan reshedule. Kita siapkan reschedule sampai 23 Desember 2021. Reschedule kita panjang, jadi masih bisa di reshedule ketika melihat situasi saat ini," kata Marcelinus.

Di pihak lain, salah satu pengelola kolam rendam air panas Walini Ade mengatakan, pihaknya telah melakukan semaksimal mungkin terkait pengetatan protokol kesehatan. Ade mengaku kewalahan karena membludaknya pengunjung ke lokasi berendam air panas tersebut.

Ade menuturkan, wisatawan membludak di Walini sekira pukul 13.00 - 15.00 WIB.

"Kami kemarin sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah mengingatkan bagaimana memakai masker sebelum masuk dan di dalam," kata Ade kepada wartawan.

"Kemarin padat itu dari jam 1 sampai jam 3 sore. Dari pagi masih bisa terkendali," lanjut Ade.

Setelah ramai di media sosial, pemerintah daerah pun memutuskan untuk menutup lokasi wisata di Ciwidey. Selain di lokasi wisata, petugas pun melakukan penyekatan agar wisatawan tidak dapat pergi ke lokasi wisata.

(mud/mud)