Mengenal 4 Tradisi Masyarakat di Tanah Sunda Saat Idul Fitri

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 13 Mei 2021 08:00 WIB
Ilustrasi kumpul keluarga Lebaran
Ilustrasi (Foto: Getty Images/ibnjaafar)
Bandung -

Indonesia memiliki berbagai macam tradisi yang melekat di masyarakatnya. Di momen lebaran Idul Fitri, warga yang tinggal dan berasal dari Tanah Sunda juga memiliki tradisi menarik yang biasa dilakukan untuk menyambut Idul Fitri.

Dirangkum detikcom, Kamis (13/5/2021) berikut beberapa tradisi yang khas dilakukan masyarakat saat menyambut Hari Raya.

1. Nganteuran

Nganteuran berasal dari bahasa Sunda yang artinya mengantarkan. Maksudnya, di momen ini masyarakat akan mengantarkan makanan hasil masakan sendiri ke tetangga terdekat.

Zaman dahulu, makanan diantar dalam rantang (wadah bertingkat). Jenis makanan yang diantar pun beragam seperti opor, rendang, ketupat, kentang balado dan lain-lain. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari atau dua hari sebelum hari lebaran tiba.

2. Ngadulag

Ngadulag biasa dilakukan pada saat malam takbiran. Arti kata ngadulag yaitu memukul bedug. Biasanya ngadulag mengiringi takbiran di mesjid atau keliling kampung.

Tidak hanya di tanah sunda saja, tradisi memukul bedug sambil mengumandangkan takbir juga dilakukan di berbagai daerah.

Dilakukan setelah selesai shalat Idul Fitri. Sungkeman juga tak hanya di momen lebaran saja, kegiatan lain yang menggunakan tradisi sungkeman ini misalnya saat pernikahan.

3. Sungkeman

Sungkem atau sungkeman jadi satu tradisi yang melekat di lingkungan keluarga saat Hari Raya. Kegiatan ini berupa memohon restu dan meminta maaf kepada anggota keluarga tertua atau orang tua.

4. Nyekar

Nyekar memiliki asal kata sekar (bunga). Nyekar biasa dikenal dengan kegiatan menabur bunga saat berziarah ke makam keluarga atau sanak saudara. Konon, tradisi nyekar muncul berkat akulturasi budaya Islam, Jawa dan Hindu.

Secara umum, tradisi nyekar juga dijadikan wahana masyarakat untuk mengingat kematian. Beberapa masyarakat melakukan tradisi nyekar sebelum atau sesudah hari Idulfitri. Meskipun berbeda, namun tidak mempengaruhi esensi nyekar tersendiri.

Di masa pandemi COVID-19 ini, pemerintah setempat telah mengatur regulasi ziarah ke makam (nyekar) beberapa wilayah memperbolehkan dengan pembatasan kapasitas dan protokol kesehatan.

(mud/mud)