Jabar Banten Hari Ini: Pilu Bayi Kembar Meninggal-Satu Kampung Lockdown

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Mei 2021 22:23 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)

Ibu Hamil Ditandu Lewati Hutan Pandeglang Berujung Bayi Kembar Meninggal

Enah (39) harus kehilangan bayi kembarnya sewaktu melahirkan. Sebelumnya, Enah berjibaku melewati perjalanan menembus hutan di Pandeglang, Banten. Ia terpaksa ditandu menggunakan sarung dan melewati perjalanan sejauh tiga kilometer karena minimnya akses menuju puskesmas.

Kisahnya bermula saat Enah, warga Kampung Lebakgedong, Kecamatan Sindangresmi, ini merasakan kontraksi saat usia kehamilannya menginjak enam bulan, Sabtu (1/5). Siang harinya, pada pukul 14.00 WIB, Enah dibawa ke puskesmas.

Mengingat akses dari rumah menuju puskesmas itu bukan jalan beraspal, tetangga dan keluarga menandu Enah menggunakan sarung yang diikatkan ke sebatang bambu. Tujuan mereka ke jalan yang bisa dilintasi kendaraan.

Diantar sembilan orang, ibu dua anak ini pun hanya bisa pasrah sembari berharap cemas memikirkan kondisi bayi kembar dalam kandungannya.

"Sekitar jam empat sore itu si ibu udah sampai di puskesmas. Alhamdulillah, langsung ditangani sama bidan," kata Muhtadin, warga setempat yang ikut mengantar Enah ke puskesmas, saat ditemui detikcom di Pandeglang, hari ini.

Takdir berkata lain, bayi itu tak mampu diselamatkan. Hasil diagnosa di puskesmas, saat Enah tiba di puskemas, menyatakan bayi kembar tersebut meninggal akibat kelebihan air ketuban dan kondisi kandungan sang ibu berumur enam bulan.

"Pas ibunya lagi dicek sama bidan, dia minta izin ke kamar mandi. Waktu di kamar mandi keluar anak yang pertama dan meninggal di tempat. Setelah diperiksa lagi sama bidannya, ternyata ada satu bayi lagi. Ternyata sudah tidak bisa tertolong bayinya," ucap Muhtadin.

Enah sempat drop usai mengetahui kondisi bayi kembarnya tak bisa diselamatkan. Setelah ditenangkan oleh keluarga, Enah mampu menerima kondisi pahit tersebut.

Pada pukul 17.30 WIB, bayi kembar malang itu kemudian dibawa pulang untuk dimakamkan. Sementara sang ibu, harus mendapat perawatan di puskesmas dan baru pulang pada esok harinya, Minggu (2/5).

Muhtadin berharap pemerintah bisa turun tangan menyelesaikan persoalan akses di kampungnya yang bertahun-tahun tak pernah tersentuh pembangunan. Ke depan, kata dia, jangan sampai peristiwa tragis ini terulang dan membuat was-was ibu hamil yang mau melahirkan.

"Soalnya udah sering kejadian kayak gini kang, tahun-tahun sebelumnya dulu juga pernah ada bayi bahkan sama ibunya meninggal pas ditandu ke puskesmas. Minimal jangan sampai terjadi lagi bahkan sampai memakan korban jiwa," tutur Muhtadin.

Halaman

(mud/mud)