Masjid Pejlagrahan Cirebon, Dibangun Pangeran Cakrabuana untuk Nelayan

Sudirman Wamad - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 03:10 WIB
Masjid Pejlagrahan Cirebon
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon -

Kota Cirebon, memiliki sejumlah masjid kuno bersejarah. Masjid kuno ini menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Cirebon. Salah satunya Masjid Pejlagrahan.

Masjid Pejlagrahan berada di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Masjid ini berada persis di samping kompleks Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Secara bentuk tak berbeda dengan masjid pada umumnya. Namun, ukurannya terbilang tak cukup luas sekitar 8x6 meter. Sedangkan ruang utama masjid sekitar 3x4 meter. Uniknya, pintu menuju ruang utama masjid sangat lah pendek. Jemaah wajib menundukan kepala saat memasuki ruang utama masjid.

Di ruang utama itu, terdapat empat tiang kekar yang dikenal dengan sebutan soko gunur. Empat tiang kekar ini merupakan warisan Wali Sanga. Masjid Pejlagrahan disebut-sebut sebagai masjid pertama dan tertua di Cirebon.

Menurut Ketua DKM Masjid Pejlagrahan Sulaeman, Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang yang merupakan Putra Raja Padjadjaran, Prabu Siliwangi.

Pangeran Cakrabuana merupakan tokoh penting berdirinya kesultanan di Cirebon. Sulaeman menyebutkan Pangeran Cakrabuana membangun Masjid Pejlagrahan sekitar 1445 dalam catatan Suaka Purbakala. Sementara itu, dalam catatan Babad Cirebon Masjid Pejlagrahan dibangun pada 1452.

Masjid Pejlagrahan CirebonMasjid Pejlagrahan Cirebon Foto: Sudirman Wamad

"Iya yang pertama di Cirebon. Lebih dulu dibangun daripada Masjid Agung Sang Cipta Rasa," kata Sulaeman saat berbincang dengan detikcom di Masjid Pejlagrahan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (22/4/2021).

Sulaeman mengatakan sejatinya lokasi Masjid Pejlagrahan awalnya di bibir pantai. Namun, dalam perkembangannya terjadi tanah timbul atau pengendapan secara alami di pantai tepat Masjid Pejlagrahan berdiri. Kemudian, di era penjajahan tak jauh dari masjid dibangun jalan raya. Hingga akhirnya Masjid Pejlagrahan kini berada di tengah pemukiman dan kekeratonan.

"Pejlagrahan itu berarti jala dan rumah. Jadi dulu itu zamannya Pangeran Cakrabuana, masjid ini menjadj tempat ibadah dan istirahat nelayan setelah berlayar," kata Sulaeman.

Sulaeman mengatakan selama ini Masjid Pejlagrahan sudah dilakukan renovasi dua kali, salah satunya pada 11 Juni 1994. Renovasi dilakukan karena bagian dinding bagian depan dan samping sudah lapuk.

"Saat itu sekaligus ada perluasan, karena jemaah juga bertambah. Tapi bentuk utama masjid kuno tidak berubah, hanya untuk memperkuat bagian yang sudah lapuk,"

Sulaeman menjelaskan ada beberapa bagian masjid dan benda yang memang tetap utuh sejak dulu, seperti kayu bagian atap, mimbar dan tongkat khotbah, serta soko guru atau tiang kekar di ruang utama masjid.

"Beberapa masih asli, ada juga prasasti. Masjid ini masih aktif menggelar kegiatan keagamaan. Selain itu, kita juga menerima kunjungan wisata setiap Sabtu, kan ada program wisata religi," kata Sulaeman.

(mso/mso)