Hari Kartini 2021

Mengenal Nurhayati, Dokter yang Tangani Pasien Corona Pertama di Karawang

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 17:17 WIB
Dokter Nurhayati
Dokter Nurhayati (Foto: Istimewa).
Karawang -

Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok wanita tangguh yang satu ini. Dia adalah Nurhayati, seorang dokter spesialis paru asal Kabupaten Karawang yang ikut berjuang melawan COVID-19.

Dia menjadi salah satu tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan dalam mengatasi pandemi ini. "Dari awal saya tangani Bupati, penyintas Corona pertama, hingga sekarang, Alhamdulillah, saya tidak pernah positif corona, karena saya berusaha untuk berpikir positif dalam mengemban tugas," kata dia saat ditemui di ruang Poli Paru RSUD Karawang, Rabu (21/4/2021).

Sebagai wanita Nurhayati bisa dibilang sosok yang tangguh. Dia menangani langsung sejumlah pasien COVID-19 hingga Bupati Karawang Cellica Nurracahadiana.

Perempuan yang lahir di Jakarta pada 1968 ini membagi kisahnya selama menangani pasien COVID-19. Satu yang paling berat adalah saat mendengar Bupati Karawang dinyatakan positif Corona sekaligus menjadi kasus pertama di Karawang.

"Tepat 24 Maret, Bupati Karawang, dinyatakan positif Corona, dan di situlah mental saya mulai diuji," ucapnya.

Dia mengaku telah memiliki firasat virus Corona akan ditemukan di Karawang. Firasat itu ia rasakan beberapa hari sebelum Bupati Cellica dinyatakan positif.

"Entah, apa yang saya pikirkan saat itu, tapi saya sudah meyakini bakal ada sesuatu menimpa Karawang, itu saat Corona mulai masuk ke Indonesia," katanya.

"Kasus pertama itu langsung Bupati, kepala daerah Karawang, saat itu saya dengan tim di RSUD lalu bergerak cepat. Pikiran awal saya hanya bagaimana Corona ini tidak menyebar, itu juga yang disampaikan Bupati kepada saya. Intinya harus segera diisolasi, dan di situ pula, kami bingung karena penanganan COVID-19 ini belum tergambarkan seperti apa," tuturnya.

Kemudian dia mecari ruang isolasi untuk bupati. Namun, ia mengaku memiliki kendala, karena hampir sebagian ruang di rumah sakit belum memenuhi standar isolasi.

"Yang awal itu kami kesulitan menyiapkan ruang isolasi untuk Bupati, ada pilihan seperti rumah sakit paru, tapi belum siap, akhirnya memilih ruang di RSUD, yang awalnya itu di ruang khusus pasien TB, tanpa AC, dan tanpa fasilitas pendukung lainnya," tutur Dokter yang memiliki tiga anak ini.

Tapi, saat itu, kami berpikir kembali, untuk merombak ruang kelas 2 di RSUD menjadi ruang isolasi bupati. "Setelah beberapa jam, Bupati akhirnya dipindahkan ke ruang isolasi yang lebih layak, ditempatkan di ruang kelas 2 yang telah dirombak," ungkapnya.

Kemudian, Bupati menginstruksikan untuk menyiapkan alat VCR, dan rapid. Alat tersebut disiapkan untuk segera digunakan dalam penanganan.

"Jadi Bupati langsung suruh menyiapkan VCR, dan rapid demi kepentingan masyarakat, bukan hanya kepentingan pribadi," katanya.

Nurhayati mengaku pihak keluarga sempat menolak dirinya ikut membantu dalam penanganan COVID-19. Namun dia terus memberi penjelasan dan pengertian kepada keluarganya.

"Keluarga di Jakarta sempat tidak setuju, mereka tidak mau saya aktif dalam penanganan COVID, tapi akhirnya saya coba kasih pengertian, bahwa ini sudah menjadi bagian dari tugas, dan sudah menjadi kewajiban saya," terangnya.

Bersyukur, ketiga anaknya, mengerti kondisi dirinya sebagai tenaga kesehatan. "Kalau anak-anak Alhamdulillah, sudah bisa mengerti, kondisi ibunya," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Cellica Nurrachadiana menyatakan keberadaan Nurhayati selama ini telah banyak membantu Pemkab Karawang dalam mengatasi pandemi COVID-19. Dia bahkan menyebut Nurhayati sebagai Kartini-nya Karawang.

"Mengapa saya bisa mengatakan Ibu Nurhayati ini Kartininya Karawang, karena selama penanganan awal ia sigap, dan berani dengan risiko tinggi," ujar Cellica.

(mso/mso)