Cerita Kursi Sumpah-Sumur Kehidupan di Masjid Darussalam Majalengka

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 23:54 WIB
Melihat kursi sumpah yang ada di Masjid Jami Darussalam Majalengka
Melihat kursi sumpah yang ada di Masjid Jami Darussalam Majalengka (Foto: Bima Bagaskara)
Majalengka -

Masjid Jami Darussalam di Desa Karangsambung, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat disebut-sebut merupakan masjid tertua yang ada di Kota Angin. Masjid konon usianya telah mencapai lebih dari 600 tahun.

Masjid Jami Darussalam ini dibangun oleh Sunan Gunung Jati dan para pembantunya sekitar abad ke 14. Masjid ini menyimpan banyak sekali sejarah dan menjadi saksi bagaimana Sunan Gunung Jati saat itu menyebarkan agama islam di Pulau Jawa bagian barat.

Dibalik sejarah panjang yang ada di masjid ini, di dalamnya tersimpan benda-benda pusaka dan sebuah sumur yang airnya tidak pernah kering sejak ratusan tahun lalu.

Dari sekian banyak benda pusaka yang ada, sebuah kursi tersimpan rapih di dalam suatu ruangan. Kursi itu diberi nama Kursi Sumpah Ki Gedeng Sawit. Kursi sumpah disimpan pengurus Masjid Jami Darussalam di sebuah lemari kaca dengan dibalut kain putih.

Sesuai namanya, kursi sumpah tersebut dibuat oleh Ki Gedeng Sawit, satu dari sembilan pembantu Sunan Gunung Jati saat mendamaikan perseteruan masyarakat Desa Karangsambung kala itu dan membangun Masjid Jami Darussalam.

Wahdiyat (69) sesepuh Desa Karasambung sekaligus pengurus Masjid Jami Darussalam menceritakan sejak perseteruan masyarakat Karasambung berhasil didamaikan oleh sembilan pembantu Sunan Gunung Jati, hanya dua orang saja yang kemudian menetap.

"Sejak didamaikan dan dibangun masjid ini (Jami Darussalam) hanya dua pembantu Sunan Gunung Jati yang tetap tinggal di Desa Karangsambung yaitu Ki Gedeng Pancuh dan Ki Gedeng Sawit," kata Wahdiyat, Minggu (18/4/2021).

Sumur kehidupan menjadi salah satu bagian histori masjid berusia 600 tahun iniSumur kehidupan menjadi salah satu bagian histori masjid berusia 600 tahun ini Foto: Bima Bagaskara

Saat itu dua pembantu Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk berdakwah dan menyebarkan agama islam di Desa Karangsambung. Ki Gedeng Sawit pun membuat sebuah kursi yang dipakainya sebagai tempat duduk saat dirinya memberikan ceramah keagamaan.

Entah bagaimana ceritanya, kursi tersebut kemudian dijadikan sebagai kursi sumpah bagi masyarakat Desa Karangsambung yang diduga sedang berbohong. Kata Abah Wahdi, sapaannya, siapapun orang yang berbohong bakal ketahuan jika duduk di kursi tersebut.

"Sebelum tahun 1970-an kursi ini masih suka dipakai sumpah. Jadi kalau ada orang yang bohong dan dia tidak mengaku kemudian duduk di kursi sumpah ini, orang itu tidak bisa berdiri karena tubuhnya nempel di kursi," ujar Abah Wahdi.

Namun karena dianggap dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini kursi sumpah tersebut dilarang penggunaannya oleh pemerintah Desa Karangsambung. "Sekarang kursi tidak dipake (untuk sumpah) lagi. Dilarang sama pemerintah desa," lanjutnya.

Selain kursi sumpah, di Masjid Jami Darussalam juga terdapat sumur yang sudah ada sejak masjid dibangun pada abad ke 14. Sumur yang terletak di area berwudhu ini juga menyimpan banyak mitos. Konon katanya sumur yang juga berusia ratusan tahun ini tidak pernah kering.

"Di sebelah kanan ada sumur, bareng dibikinnya sama masjid ini. Sumur ini belum pernah kering sama sekali, airnya juga jernih," ucapnya.

Kata Abah Wahdi, air dari sumur tersebut terkenal dengan sebutan Cai Kahuripan atau air kehidupan. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang percaya air dari sumur itu memiliki banyak manfaat.

"Disebutnya Cai Kahuripan. Banyak yang percaya airnya bisa nyembuhin penyakit, bikin awet muda dan memperlancar jodoh. Makanya banyak yang kesini sekedar mandi atau mengambil air sumur ini," imbuhnya.

Air dari sumur tersebut juga digunakan pengurus Masjid Jami Darussalam untuk mencuci benda-benda pusaka yang tersimpan. Selain kursi sumpah, ada juga benda pusaka lainnya seperti keris, tombak, parabot rumah tangga hingga alat bermain yang terbuat dari tempurung kelapa.

"Benda-benda pusaka selalu kita cuci pakai air sumur ini tiap tanggal 12 bulan Rabiul Awal. Saat itu juga semakin banyak masyarakat yang datang buat ambil air sumur," pungkas Abah Wahdi.

(mud/mud)