Miris! Pekerja Migran Bandung di Jeddah Tak Digaji Majikan 18 Tahun

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 15:50 WIB
Pilu pekerja migran asal Bandung 18 tahun tak digaji majikannya di Jeddah
Pilu pekerja migran asal Bandung 18 tahun tak digaji majikannya di Jeddah (Foto: Dok KJRI Jeddah)
Bandung -

Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung dapat bernafas lega setelah dirinya dapat diungsikan ke tempat aman di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (3/4).

Ia adalah Yayah Sopiah alias Sumarni (46). Sejak memutuskan pergi ke Arab Saudi pada 2004 lalu, dirinya belum pernah pulang ke tanah air. Sebelumnya, Yayah sempat berkomunikasi dengan pihak keluarga pada awal tahun 2020.

Rupanya, selama di sana Yayah tidak pernah dibayar. Bahkan, pasport-nya pun tidak pernah diperpanjang. Namun, setelah sempat terhubung, komunikasi kembali terputus dan tidak ada kabar lagi dari dirinya.

Akhirnya, setelah penantian selama 14 bulan, kabar baik tiba-tiba datang dari KJRI Jeddah. Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira) DPC Cianjur yang mengadvokasi PMI asal Kabupaten Bandung tersebut, mendapatkan kabar bahwa Yayah sudah berada di KJRI Jeddah.

"Alhamdulillah upaya 14 bulan yang sangat melelahkan, ibu Yayah PMI asal Ciwidey sekarang sudah ada di shalter KJRI Jeddah," ujar Ketua Astakira Cianjur Ali Hildan melalui pesan singkat kepada detikcom, Jumat (9/4/2021).

Informasi dari KJRI Jeddah, kata Ali, Yayah dalam keadaan sehat ketika diungsikan ke shalter KJRI Jeddah. Rencananya, Yayah akan berada di KJRI Jeddah untuk sementara waktu.

Yayah dibantu staf KJRI akan menuntut haknya terutama gaji yang tidak pernah dibayar majikannya selama hampir 18 tahun.

"Tadi saya sudah koordinasi dengan staf KJRI Jeddah, jadi rencananya sekarang sedang nunggu negosiasi soal gaji. Karena selama 18 tahun ini yang bersangkutan tidak memperoleh gaji sepersen pun," kata Ali.

Ali menyebutkan, pihak majikan Yayah akan bersedia membayar gaji yang ditunggaknya selama 18 tahun. Gaji yang belum dibayar tersebut diperkirakan sekitar 180 riyal atau dalam rupiah kurang lebih sekitar Rp 500 juta.

"Itu pengakuan dari majiakannya," kata Ali.

Masih melalui Ali, saat ini Yayah telah dibuatkan rekening pribadi oleh KJRI Jeddah. Apabila gaji yang Yayah telah dibayarkan, rencananya Yayah akan segera dipulangkan kembali ke tanah air.

"Sekarang sedang mediasi menunggu pembayaran gajinya. Kemudian menurut staf KJRI akan dimasukin ke rekening yang bersangkutan, yang bersangkutan sudah dibuatkan rekening. Dan setelahnya akan dipulangkan ke tanah air," katanya.

Sekadar diketahui, Yayah telah bekerja sebagai PMI di Arab Saudi sejak 2004. Dua tahun di Arab Saudi, Yayah masih dapat berkomunikasi dengan keluarga. Namun beranjak hari demi hari, tidak ada lagi kabar.

Harapan itu hadir ketika Yayah mengirimkan pesan melalui Instagram kepada akun @safeaih900. Yayah meminta tolong agar pesannya dapat disampaikan ke keluarganya.

"Kang, abdi damel di Saudi, tos lami abdi teu berkabar ka keluargi. Kumargi HP abdi rusak. Ayeuna nyuhungken bantosana, alamat family abdi di Kampung Toge, Desa Margamulya. Mugi Kang Dana tiasa bantos, nami abdi Yayah binti Ihun. Tos lami di Saudi, 16 tahun, (Kang, saya kerja di Saudi, sudah lama saya tidak berkabar ke keluarga. Sedangkan HP saya rusak. Sekarang, saya minta bantuannya, alamat keluarga saya di Kampung Toge, Desa Margamulya. Semoga, Kang Dana bisa membantu, nama saya Yayah binti Ihun. Sudah lama di Saudi, 16 tahun)," isi pesan Yayah kepada @safeaih900.

Keluarga tidak menyangka dengan pesan yang dikirimkan Yayah. Keluarga Yayah pun akhirnya mencoba meminta bantuan kepada Astakira Cianjur dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung. Setelah 14 bulan sejak ada pesan tersebut, akhirnya Yayah kini berada di tempat yang aman untuk menuntut haknya.

(mud/mud)