Eks Pekerja Migran di Cirebon Dibekali Kemampuan Bisnis Digital

Sudirman Wamad - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 16:46 WIB
Eks pekerja migran di Cirebon mendapat pelatihan bisnis digital
Eks pekerja migran di Cirebon mendapat pelatihan bisnis digital (Foto: Sudirman Wamad)
Cirebon - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggembleng seratusan eks pekerja migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk mengembangkan usahanya. Para eks TKI ini dilatih memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.

Heni Oktiana (42), eks TKI asal Desa Karangampel, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengaku mengalami kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Sesuai bekerja di Hongkong menjadi asisten rumah tangga (ART), Heni mengembangkan bisnis rotinya yang sudah ia mulai sejak 2009.

"Saya berangkat ke Hongkong 2010, pulang dari sana tahun 2015," kata Heni saat berbincang dengan detikcom sesuai menjalani pelatihan di salah satu hotel di Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (8/4/2021).

Heni bertolak ke Hongkong demi mendapatkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha roti rumahannya. Tahun 2019, Heni mengaku nekat membuka usaha roti rumahan dengan modal Rp 100 ribu. Namun, Heni mengaku kesulitan dalam memasarkan dan mencari modal tambahan.

"Awal tidak bisa berkembang. Ya akhirnya memilih ke luar negeri dulu. Balik dari Hongkong, saya langsung buka roti lagi," kata Heni.

Heni tak ingin bekerja kembali ke luar negeri. Niat Heni begitu kuat untuk membesarkan usaha roti. Sebab, Ibu dua anak itu ingin membangun usaha dan dekat dengan keluarganya.

Ia pun bersyukur bisa mengikuti pelatihan eks TKI yang dilakukan Kominfo. Heni mengaku menemui kendala dalam memasarkan produk dan mengatur keuangan bisnisnya.

"Pelatihan ini bagus. Sayangnya jarang ada. Saya di sini mendapatkan ilmu bagiamana memasarkan dan mengatur keuangan. Kalau soal modal itu bisa dicari. Tapi manajemen keuangan itu penting, makanya saya senang bisa mendapatkan ini," kata Heni.

Heni saat ini mengaku belum membutuhkan modal tambahan untuk mengembangkan bisnisnya. Sebab, lanjut Heni, daya beli masyarakat di tengah pandemi COVID-19 ini menurun. Heni juga merasakan dampak pandemi. Omzet bisnis roti milik Heni itu anjlok.

"Sebelum pandemi, rata-rata saya bisa menghabiskan lima kilogram. Omzet bisa sekitar Rp 3 jutaan. Setelah pandemi ya menurun, tidak ada setengah-setengahnya dibandingkan saat normal," kata Heni.

Pepen Efendi (25), eks TKI asal Desa Segeran Lor, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, merasakan hal yang dengan Heni. Pepen bersyukur bisa mendapatkan pelatihan dari Kominfo yang bekerja sama dengan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed). Pepen saat ini tengah mengembangkan bisnis jual saldo pulsa ke konter-konter, agen pulsa dan lainnya.

Pepen merintis bisnis menjual pulsa ke konter-konter seusai pulang dari Jepang. Pepen sempat bekerja di Jepang di bidang kontruksi pada 2017 hingga 2020. Awalnya, Pepen memulai bisnis dengan melalui pesan singkat.

"Sekarang sudah pakai aplikasi. Dulu mah jual ke agen pulsa di Indramayu. Sekarang sudah bisa jual secara nasional," kata Pepen.

Kendati bisnis Pepen berkembang, Pepen mengaku masih kesulitan dalam hal manajemen. "Kalau pemasaran kita otodidak saja. Tapi ngatur aktivitas bisnis, seperti keuangan dan lainnya masih susah. Alhamdulillah di sini diajarkan soal itu," kata Pepen.

Pepen menceritakan alasannya memilih menjual saldo pulsa ke agen dan konter. "Sekarang itu serba digital, token listrik, pulsa handphone, kuota dan lainnya. Saya pikir, bisnis ini tak akan mati. Karena sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Tinggal bagaimana kita belajar untuk mengembangkannya, salah satunya mengikuti latihan ini," kata Pepen.

"Alhamdulillah, sekarang penghasilan bersihnya itu sekitar Rp 5 jutaan per bulan," kata Pepen menambahkan.

Sementara itu, Nur Choirul Afif selaku Koordinator Panitia Pelatihan Digitalisasi Proses Bisnis Eks PMI Kabupaten Indramayu mengatakan adanya pelatihan bertujuan agar eks TKI bisa menerapkan manajemen keuangan, pemasaran dan inovasi produk secara digital. "Mereka dapat mengoptimalkan potensi ekonomi di daerah masing-masing. Sehingga mereka tidak kembali ke luar negeri dan fokus mengembangkan bisnis di daerahnya," kata Afif kepada detikcom.

Lebih lanjut, Afif mengatakan pelatihan juga bertujuan untuk mengubah paradigma eks TKI. "Jadi mereka yang pulang dari luar negeri berperan sebagai pelaku bisnis, mereka yang ke luar negeri berperan sebagai pemasar," kata Afif.

Afif menerangkan pelatihan bisnis secara digital dilaksanakan selama empat hari, dari tanggal 5 hingga 8 April. Kegiatan ini merupakan pertama kalinya di tahun 2021. "Total peserta ada 180 eks PMI, dari Cirebon dan Indramayu," kata Afif. (mud/mud)