Pegiat Lingkungan Mendorong Gunung Sanggabuana Jadi Kawasan Lindung

Yuda Febrian Silitonga - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 13:24 WIB
Gunung Sanggabuana
Gunung Sanggabuana (Foto: Yuda Febrian Silitonga/detikcom).
Karawang - Pegiat lingkungan hidup di Kabupaten Karawang mendorong agar status Gunung Sanggabuana menjadi kawasan lindung. Hal itu demi menjaga keanekaragaman makhluk hidup di dalamnya.

"Kenaikan status pegunungan Sanggabuana harus menjadi perhatian Pemkab, dalam upaya konservasi, mitigasi bencana, juga keberlangsungan makhluk hidupnya," ucap Ketua Umum ForkadasC+ Yazid Alfaizun, Rabu (7/4/2021).

Ia menjelaskan Pegunungan Sanggabuana ada dalam wilayah kerja Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangku Hutan) Purwakarta, yang membentang di 4 kabupaten yaitu Karawang, Bogor, Purwakarta dan Cianjur.

"Sebagai pengelolanya adalah BKPH Pangkalan yang berada di Karawang, status hutannya masih diperdebatkan antara Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Lindung," katanya.

Dia mengungkapkan Pegunungan Sanggabuana memiliki panjang 21 kilometer, dan lebar 14 kilometer, dengan luas 294 kilometer persegi. Pegunungan ini memiliki 51 puncakan yang terdiri dari gunung dan pasir dengan ketinggian antara 269-1.279 Mdpl, dan 151 alur air.

"Batuan yang mengisinya adalah andesit horenblenda dan porfir diorit horenblenda. Yaitu intrusi-intrusi yang umumnya tersusun dari plagioklas menengah dan horenblenda di sekitar Pegunungan Sanggabuana dan Gunung Parang, Purwakarta," ujarnya.

Di samping itu, Pegunungan Sanggabuana memiliki kawasan karst yang fungsinya mengatur sistem daur hidrologi bagi Karawang.

"Bukan hanya hutan, namun juga ada kawasan karts di daerah Pangkalan, yang masuk dalam zona Pegunungan Sanggabuana, yang di mana mengatur sistem daur hidrologi bagi makhluk hidup termasuk manusia itu sendiri," tuturnya.

Sebelumnya, seorang Wildlife Photographers Bernard T. Wahyu Wiryanta pernah melakukan dua kali pendataan fauna di Pegunungan Sanggabuana.

Pada Juli Tahun 2020, Bernard telah melakukan ekspedisi Sanggabuana, dia juga merilis beberapa satwa endemik yang langka yang tertangkap kameranya, seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbystis comata), lutung jawa (Trachypithecus auratus), sigung jawa (Mydaus jawanensis), dan juga macan kumbang (Panthera pardus melas).

Lalu Bernard bersama tim BDB Indonesia melakukan pendataan sebaran burung di Pegunungan Sanggabuana dilakukan pada 27 Maret 2021 hingga 2 April 2021.

Di sana ia berhasil memotret burung alap-alap capung yang merupakan alap-alap terkecil dunia. Selain itu, Bernard juga berhasil mendata sejumlah burung lain di Pegunungan Sanggabuana diantaranya elang jawa, elang bido, elang brontok, alap alap jambul, burung bubut jawa, ayam hutan, puyuh gonggong, dan punai gading, srigunting abu, kadalan birah dan kirik-kirik senja.

"Alap-alap yang kemarin sempat tertangkap kamera, itu baru sebagian fauna langkanya, belum lagi yang lainnya, seperti kelinci Jawa, elang Jawa, teringgiling, dan banyak lagi keanekaragaman yang terdapat di Sanggabuana," ungkap Bernard, saat dihubungi melalui telepon selular.

Selain itu, Yazid kembali menambahkan dalam teknis penetapan status kenaikannya, harus melingkupi zonasi perlindungan ekosistem, dan wilayah esensial seperti kawasan karst.

"Jadi kami merekomendasi, wilayah perlindungan harus meliputi zonasi ekosistem yang sudah terdata, dan daerah yang tentunya rawan terhadap eksploitasi sumber daya alam," terangnya.

Adapun ancaman eksploitasi, perlu segera ada aturan yang dibuat pemerintah, juga penegakan hukumnya.

"Untuk ancaman terhadap eksploitasi sumber daya alam yang memang dilindungi harus ada aturan jelas dari pemerintah, juga ketegasan dalam penegakan hukumnya," jelasnya.

Menanggapi hal itu, di tempat berbeda, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan akan mengusulkan kenaikan status pegunungan Sanggabuana.

"Saya sebelumnya sudah mengusulkan Cikuray, dan selanjutnya nanti Sanggabuana," ujarnya.

Namun, kata Dedi, usulan tersebut harus direkomendasi dari pemkab Karawang.

"Tapi tentunya, harus diusulkan oleh pemkab Karawang, agar nantinya bisa terakomodir," tandasnya.

Lihat juga video 'Muncul Badai Listrik saat Gunung Pacaya Erupsi':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)