Menebar Jutaan Kebaikan 'Daun Ajaib' dari Perbukitan Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 11:41 WIB
Anak-anak merasakan manfaat dari mengonsumsi daun kelor
Anak-anak merasakan manfaat dari mengonsumsi daun kelor (Foto: Yudha Maulana)
Bandung -

"Daun apa yang memiliki kandungan vitamin C yang lebih banyak tujuh kali dari jeruk, vitamin A empat kali lebih banyak dari wortel, kalsium empat kali lebih banyak dari susu sapi dan potasium yang lebih tinggi dari pisang dalam setiap gramnya?"

Pertanyaan itu dilontarkan Faiz Manshur saat ditemui detikcom di Cisanggarung, Desa Cikadut, Cimenyan, Kabupaten Bandung belum lama ini. Sejurus kemudian, ia menimpali dengan pertanyaan lanjutan.

"Lalu makanan apa yang selain kaya vitamin, juga kaya akan asam amino dan mineral sekaligus?" tanya Faiz.
"Semuanya ada dalam daun kelor!" tegasnya.

Organisasi Pangan dan Agrikultur Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengakui kandungan gizi dan nutrisi yang terkandung di dalam daun kelor atau Moringa oleifera. Tanaman yang tahan di segala musim ini, direkomendasikan untuk diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak.

Khasiat lainnya, tulis FAO dalam laman resminya, kelor juga bisa berfungsi sebagai bahan medis karena memiliki kandungan antibiotik, antitripanosomal, hipotensi, antispasmodik, anti luka, anti inflamasi, hiperkolesterolemia dan hipoglikemik. Tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, FAO juga menulis jika tanaman ini bisa mendatangkan penghasilan bagi petani berskala kecil.

Pohon kelor juga bermanfaat untuk menjaga ekosistem karena memiliki akar yang kuat sehingga mengurangi erosi tanah. Oleh karena itu sejumlah kalangan menjuluki tanaman ini sebagai makanan super (super food) atau daun ajaib karena manfaat yang dikandungnya.

Berangkat dari semangat itu, Faiz bersama Yayasan Odesa Indonesia yang dirintis sejak 2016, berusaha menularkan pemahaman tersebut kepada warga, khususnya petani di Cimenyan. Daun kelor menurutnya menjadi kunci untuk perbaikan gizi, menaikkan hajat hidup masyarakat desa, sekaligus melindungi lahan Bandung Utara yang telah kritis.

Awal Gerakan 'Kelorisasi'

Tak bisa dipungkiri, salah satu pemantik gerakan Odesa di Cimenyan ini salah satunya setelah melihat petani prasejahtera yang mengalami penyakit yang kompleks dan tak terawat dengan layak. Petani tersebut menderita kanker, penyakit jantung dan kolesterol yang tinggi, sementara kemiskinan membuatnya tak bisa mendapatkan sanitasi yang layak.

"Kita bawa ke rumah sakit, ternyata kanker, jantung dan kolestrolnya tinggi. Penyakitnya seperti orang kota, intinya, saya melihat ternyata gizinya kurang baik, dari situlah saya mencari solusi pangan yang sehat, kalau orang sakit saya tanggung jawab ke RS tapi apakah itu cukup ? dari sanalah saya menemukan kelor ini tanaman yang direkomendasikan PBB," katanya.

"Apalagi bila yang sakit itu kepala keluarga prasejahtera, untuk menunggu yang sakit kita bayar orang nungguin Rp 100 ribu per hari, belum yang mendampingi kita bayar Rp 100 ribu, terus kemudian orang yang di rumah juga kita bayar karena tidak ada uang untuk beli makanan, kepala keluarga mereka yang mencari uangnya sakit, kita total bisa bayar Rp 300 ribu - Rp 400 ribu per hari untuk biaya di luar pengobatan, betapa mengerikannya bila sampai sakit," ujar Faiz.

Masalah lainnya, ketika Faiz berkaca masih banyaknya kasus gizi buruk dan stunting di Kabupaten Bandung. Berdasarkan data yang dikutip detikcom dari Open Data Jabar, pada tahun 2020 ditemukan 270 kasus gizi buruk di sana. Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung menurut Riskesdas Kementerian Kesehatan tahun 2018 sebesar 35,2%.

"Saatnya petani harus mulai mahir menyeleksi jenis tanaman yang memiliki gizi yang baik. Di sisi lain, tanamlah yang beraneka ragam. Kita harus menanam beragam tanaman, tapi di antara fokus menanam, bisa mengerti mana yang paling bergizi. Katakanlah kelor ini 15 persen, tanaman yang lainnya 5 persen, 5 persen, dan seterusnya," ujar pria kelahiran Temanggung, 1976 itu.

"Tradisikan budidaya yang cerdas. Imajinasi saya seperti itu, sorgum harus ada, kelor harus ada, kopi juga harus ada," imbuhnya.

Simak juga 'Berbuka dengan Puding Daun Kelor, Bikin Semangat Nggak Kendor':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3