Pandemi COVID-19, Jumlah ODGJ di Pangandaran Meningkat

Faizal Amiruddin - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 13:48 WIB
Petugas Dinas Kesehatan tengah memeriksa pasirn gangguan jiwa sebelum diberangkatkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzuki Mahdi.
Petugas Dinas Kesehatan tengah memeriksa pasirn gangguan jiwa sebelum diberangkatkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzuki Mahdi (Foto: Faizal Amiruddin/detikcom).
Pangandaran -

Situasi pandemi Corona membawa dampak negatif terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, sosial, pendidikan dan lainnya. Dampak pandemi Corona disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan kasus gangguan jiwa di Kabupaten Pangandaran.

Korelasi antara dampak pandemi Corona terhadap kesehatan jiwa masyarakat Pangandaran, setidaknya bisa terlihat dari lonjakan pasien gangguan jiwa di tahun 2020.

"Tahun 2019 jumlah ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) di Pangandaran sekitar 500 orang, lalu tahun 2020 melonjak menjadi 708 orang. Di tahun 2020 memang terjadi lonjakan dibanding grafik tahun-tahun sebelumnya," kata Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran Rina Veriany, Jumat (26/3/2021).

Rina mengatakan situasi pandemi Corona dengan berbagai dampak negatifnya terhadap kehidupan masyarakat, disinyalir turut mempengaruhi kenaikan ODGJ di Pangandaran. "Situasi pandemi saya kira turut mempengaruhi, walaupun faktor penyebab gangguan jiwa itu tidak berdiri sendiri namun dipengaruhi banyak variabel," kata Rina.

Dia menjelaskan hasil analisa yang dilakukan pihaknya, mayoritas penyebab gangguan jiwa di Pangandaran disebabkan oleh masalah ekonomi, kegagalan menjalin hubungan percintaan dan terobsesi mendalami ilmu tertentu.

"Intinya kegagalan mengelola tekanan atau masalah hidup yang dialami, sehingga mereka mengalami gangguan jiwa. Yang terjadi di Pangandaran mayoritas berlatar kehilangan pekerjaan, ditinggal pasangan dan mendalami ilmu tapi gak kesampaian," kata Rina.

Rina menambahkan semua orang pasti mengalami tekanan atau stres saat menjalani kehidupannya masing-masing. Namun ketika seseorang gagal mengelola tekanan itu dan menjadi depresi, maka bisa mengalami gangguan jiwa.

"Semua orang berpotensi mengalami stres. Tapi ketika kita mampu mengelolanya tentu tak jadi masalah," kata Rina.

Lebih lanjut Rina menjelaskan dari 708 ODGJ di Pangandaran sebanyak 501 orang kondisi berat, sedangkan 207 dengan kondisi ringan.

Kondisi ini kemudian disikapi Pemkab Pangandaran dengan melakukan upaya pengobatan bekerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzuki Mahdi.

"Secara bertahap kami berupaya untuk melakukan penanganan ODGJ. Sekarang ada 31 ODGJ yang akan diobati ke RSJ Marzuki Mahdi," kata Rina. Dalam satu tahun, program kerjasama ini diagendakan 2 kali. Mereka akan dirawat selama 21 hari di RSJ Marzuki Mahdi, setelah itu dipulangkan ke rumah keluarga masing-masing.

Angka 708 ODGJ di Pangandaran itu didapat dari hasil pendataan yang dilakukan petugas Puskesmas. Bak fenomena gunung es, ditengarai masih banyak ODGJ di Pangandaran yang belum terdata.

"Masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan jiwa itu aib, sehingga ketika ada keluarganya yang sakit malah dikurung atau disembunyikan. Padahal perlakukan itu justru semakin memperparah kondisi pasien," kata Rina.

Simak juga video 'Menkes akan Keluarkan Kebijakan Baru Mengenai Pendamping Lansia':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)