Oknum Wartawan Abal-abal Diduga Peras Guru di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 22:49 WIB
Ilustrasi uang
Ilustrasi uang (Foto: iStock)
Pandeglang -

Kalangan guru di Pandeglang tengah dipusingkan dengan sejumlah oknum yang datang ke sekolah dan mengaku sebagai wartawan. Pasalnya, mereka kerap melakukan intimidasi hingga berujung ke arah pemerasan dengan modus akan memberitakan masalah di sekolah tersebut jika tidak memberikan nominal uang tertentu.

Salah satunya dialami oleh seorang guru SMA negeri di Pandeglang berinsial GR. Kepada detikcom, ia bercerita oknum wartawan abal-abal ini sering datang sejak dua minggu lalu ke sekolah dan menanyakan perihal transparansi penggunaan dana BOS di lingkungan instansi pendidikannya.

"Mereka ini datangnya rombongan, bisa lima sampai sepuluh orang kalau ke sekolah. Ngakunya dari media A, tapi yang saya tahu media itu enggak begitu familiar di Pandeglang ataupun di nasional," kata GR saat berbincang dengan detikcom di Pandeglang, Banten, Minggu (7/3/2021).

Tadinya, guru-guru di sana mengira kedatangan rombongan oknum wartawan abal-abal ini hanya sekedar bersilaturahmi kepada pimpinan di sekolah. Namun lama-kelamaan, pembicaraan mereka malah melebar ke arah penggunaan dana BOS.

"Mereka ini sering datang ke sekolah, om, hampir tiap hari. Nah yang bikin kesel itu, mereka nuding ke sekolah kita udah enggak bener ngelola dana BOS. Padahal kalau mau jor-joran, tiap tahun laporan kita enggak pernah ada catatan dari pemda. Akhirnya bikin kesel ke kita juga, udah keterlaluan soalnya," beber GR.

Puncak kekesalan guru terjadi saat oknum wartawan abal-abal ini diduga telah melakukan pemerasan dan meminta uang mulai dari 5-10 juta ke sekolah. Uang tersebut diminta sebagai jaminan agar pengelolaan dana BOS di sekolah mereka tidak dipublikasikan ke media.

"Alasannya untuk kerjasama di media mereka supaya tidak dibuat berita yang soal BOS itu. Ngancemnya juga udah keterlaluan, om, suka cari masalah yang aneh-aneh. Bilangnya sekolah kurang transparan lah, kurang terbuka lah. Uang itu kata mereka buat tutup mulut, termasuk layanan pendampingan kalau ada wartawan dan LSM minta duit lagi ke sekolah," terangnya.

Meski sudah beberapa kali dihiraukan, namun rombongan oknum wartawan abal-abal ini kerap datang kembali ke sekolah dan mengancam akan mempublikasi pengelolaan dana BOS. Parahnya, mereka bahkan datang ke rumah pribadi kepala sekolah dengan menebar ancaman yang sama.

"Mending kalau namunya pas hari kerja, ini kata kepala sekolah saya mereka hari libur juga datang ke rumah. Terus datangnya malem, kadang mau istirahat juga kepala sekolah saya jadi keganggu. Makanya ini om, saya minta bantuan supaya kelompok-kelompok seperti mereka segera dintindak dan enggak meresahkan lagi," pungkasnya.

Kondisi yang sama juga kerap dialami DA, guru SMP negeri di Pandeglang. Namun menurut sepengetahuannya, oknum wartawan abal-abal yang datang ke sekolahnya ini tidak sampai meminta uang dengan nominal tertentu hingga melakukan pemerasan.

"Kalau yang datang ngaku wartawan mah sering, tapi enggak sampai ngancam begitu. Paling mereka cuma minta buat bensin sama rokok, selebihnya mah enggak pernah macem-macem. Yasudah, sama kepala sekolah saya suka dikasih, hitung-hitung kasihan juga kalau misalnya dia dari jauh datangnya," katanya.

Terkait dugaan pemerasan, DA pun mengaku kerap mendapat keluhan dari rekan sejawatnya di sekolah lain. Meski tidak meminta nominal yang terlalu besar, namun kedatangan oknum wartawan abal-abal ini juga kerap meresahkan dan mengganggu kerja guru di sekolah.

Pengennya mah bisa segera ditindak, kang, apalagi yang parah-parah itu minta uangnya. Sudah meresahkan, sering banget gak tahu waktu datangnya juga. Enggak kita ladenin enggak enak juga ke mereka, namanya tamu. Tapi kalau diladenin, malah bikin kesel," pungkasnya.

(mud/mud)