Round-Up

Dituntut Mati, Terdakwa 'Bola Sabu' Atefeh Nohtani Berteriak Histeris

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 08:32 WIB
Sukabumi - Ketukan palu Majelis Hakim Aslan Ainin terdengar di dalam ruangan sidang. Dari tayangan video sidang yang dilakukan secara virtual itu terdengar juga jerit histeris tangisan Afeteh Nohtani perempuan berkebangsaan Iran.

Perempuan yang didakwa karena kasus narkotika jenis sabu itu histeris saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya dengan hukuman mati. Afeteh menolak, beberapa kali ia berusaha merebut mikrofon yang sengaja dijauhkan dari jangkauannya oleh penasihat hukum.

Tayangan kegaduhan itu terjadi beberapa saat, bermula dari pembacaan tuntutan yang dilakukan salah satu dari empat JPU Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi. Afateh yang fasih berbahasa Indonesia itu sempat terdiam usai JPU membacakan tuntutan mati.

Atafeh yang awalnya terlihat kebingungan lantas menanyakan sesuatu ke penasihat hukumnya. Tidak lama setelah itu, ia terlihat menutup wajah dan berteriak menangis.

Beberapa terdakwa yang berada di luar ruangan sempat menghampiri dan menenangkannya, setelah itu ia terlihat dibawa ke luar ruangan. Seorang petugas dari Lapas Warungkiara terlihat menghadap kamera dan memohon izin agar sidang diskors sementara.

Tidak lama Atafeh kembali terlihat dalam tayangan video masuk ke dalam ruangan. Pembacaan tuntutan dilanjutkan, namun perempuan itu terlihat menggapai-gapai mikrofon yang dipegang penasihat hukumnya.

"Majelis mohon izin, terdakwa mau ada yang dibicarakan," kata penasihat hukum yang mendampinginya.

Hakim sempat menanyakan penterjemah apakah Atafeh bisa berbicara bahasa Indonesia, namun Atafeh langsung memotong ucapan hakim.

"Assalamuallaikum pak, yang mulia demi tuhan demi rasul saya enggak tahu apa-apa. Demi Allah saya tidak tahu apa-apa, yang mulia minta tolong saya enggak tahu apa-apa Demi Allah. Tolong pak hakim, pak hakim punya anak-anak saya punya anak. Saya minta tolong, saya minta tolong," teriak Atafeh fasih dalam bahasa Indonesia.

Masih dalam tayangan video, teriakan Atafeh akhirnya terhenti setelah seorang pria mengambil mic yang dipegangnya lalu menyerahkannya ke penasihat hukum. Seorang anggota JPU lalu berbicara dan mengatakan ada bagian acara pembelaan atau pledoi menegaskan agenda sidang hari ini adalah pembacaan tuntutan.

"Iya makanya saya mau ngomong dia ngomong terus. Terdakwa dan penasihat hukum terdakwa, coba itu perhatikan terdakwa Atefeh. Dengarkan dulu, dengarkan saya dulu," kata Ketua Mmajelis Hakim Aslan Ainin.

Saat itu Atafeh kembali berteriak dan merebut mic yang disimpan di atas meja, penasihat hukum sontak berdiri dan berusaha mencegah kliennya berbicara. "Sebentar, sebentar saya mau bicara saya mau minta tolong saya tidak tahu apa-apa. Kenapa pak hakim tidak lihat saya, pak hakim, saya mau bicara pak hakim saya punya anak," teriaknya.

Beberapa kali majelis hakim meminta perempuan itu untuk berhenti berbicara, namun Atafeh terus memotong pembicaraan hakim. Hal itu memancing hakim Aslan Ainin bersikap tegas, ia beberapa kali memukulkan palu ke meja sidang.

"Penasihat hukum terdakwa saya arahkan dulu, saudara mengerti tidak. Terdakwa saudara dengarkan saya, saudara tidak mengatur majelis di sini ya, sudah saya toleransi duduk dulu. Saudara saya kasih tahu tapi masih nyerocos terus, jangan majelis dikira tidak tahu. Saudara saya kasih tahu, bahwa dalam hukum Indonesia setelah tuntutan dibacakan oleh penuntut umum terdakwa punya hak untuk mengajukan pembelaan atau pledoi ya," beber Aslan.

"Kalau saudara tidak mengerti ada penasihat hukum yang mengarahkan apa yang saudara rasakan bisa dituangkan tertulis silahkan saudara bikin sendiri dan penasihat hukum saudara juga silahkan saya kasih waktu untuk pledoi atau pembelaan pada hari Senin tanggal 15 Maret 2021, begitu penasihat hukum terdakwa ya baik persidangan ditutup," sambung Aslan. (sya/mso)