Jerit Histeris Atefeh Nohtani, Terdakwa 'Bola Sabu' Saat Dituntut Mati

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 21:47 WIB
Sukabumi -

Atefeh Nohtani, perempuan berkebangsaan Iran menangis histeris usai mendengar tuntutan mati yang dijatuhkan kepadanya dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi.

Atefeh adalah salah satu dari 13 terdakwa yang diyakini JPU bersalah melakukan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan Pasal 3 Jo Pasal 10 UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dilihat detikcom dalam video sidang yang dilakukan secara online di tiga lokasi, majelis hakim dari Pengadilan Negeri Cibadak yakni Ketua Aslan Ainin SH. MH (ketua majelis) dan anggota Agustinus SH serta Lisa Fatmasari SH.

Sementara JPU Kejari Kabupaten Sukabumi masing-masing Dista Anggara, Dhafi Arsyad, Mat Yasin dan Ferdy Setiawan membacakan bergantian tuntutan kepada para terdakwa. Sidang sendiri dilakukan bertahap untuk masing-masing terdakwa.

Tuntutan Atafeh sendiri dibacakan oleh JPU Mat Yasin, awalnya perempuan itu terlihat tenang. Begitu JPU dibagian kalimat tuntutan mati, Atafeh yang awalnya terlihat kebingungan lantas menanyakan sesuatu ke penasihat hukumnya. Tidak lama setelah itu, ia terlihat menutup wajah dan berteriak menangis.

Beberapa terdakwa yang berada di luar ruangan sempat menghampiri dan menenangkannya, setelah itu ia terlihat dibawa ke luar ruangan. Seorang petugas diduga dari Lapas Warungkiara terlihat menghadap kamera dan memohon izin agar sidang diskors sementara.

Tidak lama Atafeh kembali terlihat dalam tayangan video masuk ke dalam ruangan. Pembacaan tuntutan dilanjutkan, namun perempuan itu terlihat menggapai-gapai mik yang dipegang penasihat hukumnya.

"Majelis mohon izin, terdakwa mau ada yang dibicarakan," kata penasihat hukum yang mendampinginya.

Hakim sempat menanyakan penterjemah dan bertanya apakah Atafeh bisa berbicara bahasa Indonesia, namun Atafeh langsung memotong ucapan hakim.

"Assalamuallaikum pak, yang mulia demi tuhan demi rasul saya enggak tahu apa-apa. Demi Allah saya tidak tahu apa-apa, yang mulia minta tolong saya enggak tahu apa-apa Demi Allah. Tolong pak hakim, pak hakim punya anak-anak saya punya anak. Saya minta tolong, saya minta tolong," teriak Atafeh fasih dalam bahasa Indonesia.

Masih dalam tayangan video, teriakan Atafeh akhirnya terhenti setelah seorang pria mengambil mic yang dipegangnya lalu menyerahkannya ke penasihat hukum. Seorang anggota JPU lalu berbicara dan mengatakan ada bagian acara pembelaan atau pledoi menegaskan agenda sidang hari ini adalah pembacaan tuntutan.

"Iya makanya saya mau ngomong dia ngomong terus. Terdakwa dan penasihat hukum terdakwa, coba itu perhatikan terdakwa atafeh. Dengarkan dulu, dengarkan saya dulu," kata ketua majelis hakim Aslan Ainin.

Saat itu Atafeh kembali berteriak dan merebut mic yang disimpan di atas meja, penasihat hukum sontak berdiri dan berusaha mencegah kliennya berbicara. "Sebentar, sebentar saya mau bicara saya mau minta tolong saya tidak tahu apa-apa. Kenapa pak hakim tidak lihat saya, pak hakim, saya mau bicara pak hakim saya punya anak," teriaknya.

Beberapa kali majelis hakim meminta perempuan itu untuk berhenti berbicara, namun Atafeh terus memotong pembicaraan hakim. Hal itu memancing hakim Aslan Ainin bersikap tegas, ia beberapa kali memukulkan palu ke meja sidang.

"Penasihat hukum terdakwa saya arahkan dulu, saudara mengerti tidak. Terdakwa saudara dengarkan saya, saudara tidak mengatur majelis di sini ya, sudah saya toleransi duduk dulu. Saudara saya kasih tahu tapi masih nyerocos terus, jangan majelis dikira tidak tahu. Saudara saya kasih tahu, bahwa dalam hukum Indonesia setelah tuntutan dibacakan oleh penuntut umum terdakwa punya hak untuk mengajukan pembelaan atau pledoi ya," beber Aslan.

"Kalau saudara tidak mengerti ada penasihat hukum yang mengarahkan apa yang saudara rasakan bisa dituangkan tertulis silahkan saudara bikin sendiri dan penasihat hukum saudara juga silahkan saya kasih waktu untuk pledoi atau pembelaan pada hari Senin tanggal 15 Maret 2021, begitu penasihat hukum terdakwa ya baik persidangan ditutup," sambung Aslan.

(sya/mud)