Hasil Produk Keterampilan Disabilitas di Jabar Sepi Pembeli

Siti Fatimah - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 19:54 WIB
Seorang warga disabilitas di Panti Rehabilitasi Sosial tengah membatik tulis
Seorang warga disabilitas di Panti Rehabilitasi Sosial tengah membatik tulis (Foto: Dokumentasi Dinsos Jabar)
Bandung -

Hasil produk keterampilan kaum disabilitas di Jabar masih sepi pembeli. Kondisi itu diakui pemerintah akibat masih minimnya pemasaran.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Dodo Suhendar mengatakan sedikitnya ada 100 orang penyandang disabilitas yang diberi pelatihan keterampilan maupun pendidikan mengenai kewirausahaan dalam kurun waktu delapan bulan.

"Kami fokus membina mereka berwirausaha. Mereka belajar banyak keterampilan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (2/3/2021).

Lebih lanjut, jenis pelatihan lainnya yang diberikan Dinsos Jabar seperti pijat hingga memasak agar mereka ahli dalam membuat makanan yang nantinya diperjualbelikan. Dia menyebutkan, sebagai contoh sejumlah produk hasil karya warga berkebutuhan khusus itu seperti batik, gelas bermotif, dan sajadah.

"Setiap warga disabilitas dapat dua jenis keterampilan sesuai dengan minat dan bakatnya," tuturnya.

Namun, Dodo mengakui pihaknya belum maksimal dalam memasarkan produk hasil karya binaannya tersebut. Produk hasil karya mereka belum banyak yang terserap karena minimnya pembeli sedangkan volume produksi karya disabilitas itu sudah cukup banyak. "Bisa memproduksi 20-30 batik per hari," ujarnya.

Dengan program pelatihan ini, dia berharap para warga dengan berkebutuhan khusus dapat menjadi pribadi yang mandiri dan tidak berpangku tangan. "Jadi bagaimana kita bisa memberikan akses supaya mereka lebih maju. Kita harus mendorong, memberi dukungan agar penyandang disabilitas bisa lebih baik lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD Panti Sosial Penyandang Disabilitas Mental, Sensorik Netra, Rungu Wicara, Tubuh Dinas Sosial Jawa Barat, Ferrus Syamach berpendapat, jika minim penyerapan maka tak berlebihan apabila setiap ASN membeli produk mereka sebagai bentuk keberpihakan.

"Untuk menolong disabilitas, mereka juga punya hak. Bukan untuk mematikan UMKM lain," tuturnya.

Menurutnya, warga disabilitas lebih cocok diberi pelatihan keterampilan dibanding pelatihan pekerjaan. Dengan harapan, mereka akan menjalankan usahanya sendiri yang akhirnya memiliki sifat kemandirian ekonomi.

(mud/mud)