Waspada! Ini Modus PMKS di Kota Bandung Selama Pandemi COVID-19

Wisma Putra - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 17:38 WIB
Sleeping on the streets of Las Vegas will be illegal in downtown and residential areas of the gambling city (AFP Photo/JEWEL SAMAD)
Ilustrasi (Foto: AFP Photo/JEWEL SAMAD)
Bandung -

Pandemi COVID-19 membuat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dari luar kota datang ke Kota Bandung untuk mengemis dan meminta-minta.

Beragam modus PMKS dilakukan, dari mulai mengetok kaca mobil berplat nomor B dan memaksa minta uang dan lansia yang mengenakan kostum badut berkarakter kartun.

Kepala Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung Tono Rusdiantono mengatakan, untuk PMKS yang mengetuk-ngetuk kaca, itu ada di kawasan perempatan Pasteur dengan menyasar mobil luar kota.

"Seperti di Pasteur ngetok-ngetok, tidak sopan, warga Pasteur sedikit, kebanyakan warga luar Pasteur," kata Tono di Balai Kota Bandung, Selasa (2/3/2021).

Tono berujar, PMKS ini marak di hari libur dan mangkal di pintu masuk dan keluar Kota Bandung. Selain kawasan Pasteur, PMKS ini juga marak di exit Tol Soroja dan Mohammad Toha.

"Mereka sudah tahu, Bandung ramainya Sabtu-Minggu, mereka nongkrong di Pasteur, kawasan RSHS, termasuk juga sekarang di Pasirkoja, ada juga yang keluar dari sana kalau Pasteur macet," ujarnya.

Tono mengungkapkan, PMKS yang terjaring oleh pihaknya langsung dikembalikan ke wilayah. Salah satunya, penjual coet anak asal Bandung Barat yang datang bersama ibunya.

"Kita langsung telepon kepala dinas, kita buat berita acara yang penting tidak balik lagi. Ada yang tidak ada yang balik lagi, kalau Bandung Barat banyak, di Jalan Seram jualan coet bersama ibunya, ibunya ngumpet, anaknya jualan. Saya pernah panggil ibunya supaya tidak balik lagi, eh malah balik lagi besoknya," ungkapnya.

Selain itu, ada juga badut lansia. Hal tersebut, mengganggu sekali arus lalu lintas dan pihaknya kerap melakukan penertiban terhadap badut lansia ini. Tono juga menyebut, keberadaan badut lansia ini ada yang mengkoordinir.

"Badut lansia saya pastikan ada yang mengkoordinir, jadi dia pagi-pagi diturunkan pakaian badut dipakai, sorenya dijemput lagi. Bandutnya banyak 30-50, di Cijerah, di Cibiru, di Ujungberung, di tengah kota mereka ganggu lalu lintas," jelas Tono.

"Badut kita angkut ke rumah singgah, sudah banyak yang diangkut, dibuka orang Kabupaten Bandung ternyata," tambah Tono.

Tono beranggapan mereka ada yang mengkoordinir, karena pakaian badut seperti itu mahal. "Kan pakaian badut itu mahal, modalnya susah ya, seperti ada organisasinya," tuturnya.

Tono menyebut, keberadaan badut lansia ini mengganggu ketertiban umum. "Mereka mengganggu ketertiban umum," pungkasnya.

Simak juga Video: Disuntik Vaksin Covid-19, Wawali Bandung: Pegal dan Ngantuk

[Gambas:Video 20detik]



(wip/mud)