Soal Program Petani Milenial, Pengamat: Kalau Hanya Viral untuk Apa?

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 28 Feb 2021 19:43 WIB
Raup Rp 50 Jutaan Sekali Panen, Pria Milenial Ini Pilih Jadi Petani

Ahmad Sahid, pria milenial ini lebih memilih menjadi petani di daerahnya Dusun Sebindang, Kecamatan Badau, Kalimantan Barat. Sekali panen, Sahid bisa meraup Rp 50 juta.
Foto: Ilustrasi (Rachman Haryanto/detikcom).
Bandung -

Program Petani Milenial rencananya dimulai Maret mendatang. Program tersebut diharapkan benar-benar mampu mengangkat derajat para petani sehingga tidak menjadi program yang sia-sia.

"Saya pikir gini, jadi kebijakan itu tidak boleh parsial, kalau hanya sekedar terkenal dengan tema yang jadi viral untuk apa? Tapi harus mendalam, kebijakan harus dipikirkan secara komprehensif 10 tahun 20 tahun mungkin 100 tahun ada yang dituju oleh pertanian kita," kata Pengamat Kebijakan Publik Cecep Darmawan via sambungan telepon, Minggu (28/2/2021).

Seperti diketahui, program yang bertujuan untuk solusi pengangguran di masa pandemi COVID-19 digemborkan Gubernur Jabar Ridwan Kamil di media sosial. Namun, launching program tersebut meleset dari waktu yang sudah direncanakan yakni pertengahan Bulan Februari.

Cecep berharap program ini jangan hanya sekedar lip service saja bahwa milenial bisa kerja. Tapi bagaimana mengangkat harkat derajat kaum petani secara masif.

"Kalau saya lebih cenderung bagaimanapun petani kita menjadi petani modern, bukan hanya terfokus milenial, tapi harus kebijakan pertanian, untuk apa mengajak milenial tanpa secara mendasar memperbaiki kehidupan para petani kita, apalagi hanya di media sosial," ungkapnya.

Saat disinggung apakah ada gimmick politik dalam kebijakan tersebut, Cecep berharap tidak ada.

"Maaf juga kalau berorientasi ke RI 1 ke depannya, menurut saya mudah-mudahan tidak ke sana, ini sekedar menarik kaum muda bahwa pertanian patut dijalani kaum muda, tapi saya bilang itu baru koma belum titik, pemerintah tugasnya berat bagaimana mengangkat tadi kaum petani lebih modern dan terhormat jauh lebih penting daripada milenial bertani kemudian ada di medsos, enggak usah gubernur yang lain juga bisa," jelasnya.

Selain itu, pertanian ini merupakan sektor usaha yang sangat menjanjikan, namun kerap terganjal soal lahan, modal dan SDM petani. Selain itu, petani juga harus dilatih mengenai manajerial tata niaga, pengiriman dan distribusinya. Meski demikian, serial ide yang digulirkan pemerintah patut diapresiasi.

"Ide ini, tentu kita apresiasi dalam kerangka bahwa subangsih kaum muda khususnya di Jabar dalam hal menghidupkan kembali dunia pertanian. Karena setau kita dunia pertanian semakin hari semakin ditinggalkan oleh generasi muda," tambahnya.

Cecep mengingatkan kembali, jika program ini harus terintegrasi, tidak parsial, karena kalau ingin jadi petani tidak cukup hanya menyiapkan lahan. Jadi harus ada kajian mendalam dan kebijakan ini harus melibatkan stakeholder yang mendukung kebijakan pertanian.

"Misal, tata niaga nanti hasil pertanian seperti apa, di kita umumnya begitu. Termasuk jenis pertaniannya apa dulu, jangan seragam semua, bukan hanya itu. Hemat saya, pemerintah secara komprehensif kalau pemerintah ingin meningkatkan derajat petani tidak hanya program yang komprehensif tapi harus ada road map yang dapat menghidupkan pertanian kita," tambahnya.

"Beras saja impor, padahal lahan banyak. Banyak hasil pertanian lebih murah daripada menanam sendiri, bukan petani kita tidak mau menanam atau kerja, tapi ada politik pertanian yang menurut saya belum baik. Iklim investasi belum baik, pemasaran juga belum baik, akhirnya orang malas jadi petani dan berduyun-duyun ke kota jadi buruh," pungkasnya.

Saksikan juga 'Agrowisata Lembah Hijau Sukoharjo, Berwisata Menjadi Peternak Dan Petani Sayur Organik':

[Gambas:Video 20detik]



(wip/mso)