Pakar Unpad Ungkap Penyebab Bencana Hidrometeorologi di Jabar

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 11:27 WIB
Ilustrasi banjir bandang (Andhika-detikcom)
Foto: Ilustrasi banjir (Andhika-detikcom)
Bandung - Pakar Hidrologi sekaligus Guru Besar Bidang Watershed Management FTIP Universitas Padjadjaran (Unpad) Chay Asdak mengungkapkan beberapa penyebab banjir dan bencana hidrometeorologi di Jawa Barat.

Seperti diketahui, beberapa hari yang lalu daerah Jakarta, Depok, Bekasi dan sekitarnya terendam banjir. Beberapa Penyebab banjir yang diungkapkan Asdak di antaranya mulai dari fenomena perubahan iklim pada 2019 lalu dengan mencairnya gunung es di kutub, cuaca ekstrem, degradasi lahan, banyaknya lahan kritis hingga Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Jabar.

"Kalau dilihat dari prediksi BMKG mungkin sekitar Maret-April itu hujan masih akan terjadi. Jadi kita masih di dalam musim hujan, kita harus waspada bagi warga Bandung dan Jabar. Baik bagi pejabatnya, masyarakat, akademisi, media dan pelaku usaha untuk waspada bahwa mereka hidup di wilayah bencana hidrometeorologi," kata Asdak dalam webinar Satu Jam Berbincang Ilmu yang diikuti detikcom, Kamis (25/2/2021).

Lebih lanjut, dia juga melihat dari data curah hujan yang terjadi baru-baru ini bisa mencapai 100-150 milimeter per hari. Menurutnya, angka tersebut bervariasi atau lebih dari 40 mm per jam yang bisa menjadi penyebab banjir jika air tidak dapat diserap tanah dengan baik.

Kondisi lahan di Jabar, kata dia, memiliki banyak kelebihan dari pegunungan, air melimpah dan pemandangan yang indah. Namun dibalik itu, Jabar juga dibayang-bayangi dengan berbagai macam bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang disebabkan faktor cuaca seperti banjir, longsor, atau kekeringan.

"Data dalam 10 tahun terakhir, seluruh bencana hidrometeorologi itu lebih dari 50 persen terjadi di Jabar. Karena bisa dijelaskan Jabar itu alamnya bergunung-gunung dan karena di kita hujan orografis, dan ada black border effect dalam fenomena hidrologi makanya kalo kita lihat banjirnya itu diam saja," jelasnya.

Beralih pada faktor yang berada di kebijakan pemerintah yakni RTRW, Asdak mengatakan, umumnya lahan di Jabar digunakan untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya. Menurutnya, jual beli lahan di dekat lereng masih terjadi dan jumlah lahan kritis terus meningkat.

Tahun 2013 jumlah lahan kritis sudah 60 hektar, di tahun 2018 meningkat menjadi 4600 hektar. Kemudian koefisiensi limpasan permukaan juga jadi salah satu yang menyebabkan banjir.

"Jadi air tidak masuk ke dalam tanah itu meningkat dari sekitar lebih dari 80-90 persen. Artinya 80-90 persen air hujan itu tidak masuk ke dalam tanah tetapi menjadi limpasan. Antara hutan dan tanah terdegradasi yang dibiarkan kosong dan tidak tertanami," ungkapnya.

"Kita lihat degradasi lahan di Jabar itu sangat masif karena market oriented dan tidak ada satu aturan pun yang melarang petani pemilik lahan untuk menahan mereka melakukan degradatif. Jadi itu tantangan besar," sambung Asdak.

Sebelumnya, BMKG Bandung mengimbau agar warga Jawa Barat siaga atau waspada banjir pada 24 dan 25 Februari 2021. Pihaknya mencatat, berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF), untuk dampak banjir hingga banjir bandang ini berpotensi terjadi di 18 kabupaten/kota dan berlaku pada 24-25 Februari 2021. (mso/mso)