Plus Minus Andai Sandiaga Uno-Ridwan Kamil Jadi Pasangan di Pilpres 2024

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 15:48 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Menparekraf Sandiaga Uno
Foto: Gubernuer Jabar Ridwan Kamil dan Menparekraf Sandiaga Uno (Yudha Maulana/detikcom).
Bandung -

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saling membuka peluang untuk berdampingan menuju Pilpres 2024. Lalu bagaimana plus dan minus kedua tokoh ini jika berpasangan di Pilpres nanti?

Pakar Politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi menilai baik Sandiaga maupun Kang Emil memiliki basis dukungan yang beririsan dan cenderung sama. Ceruk dukungan dari keduanya berasal dari kalangan pemilih muda, di perkotaan, cerdas, ekonomi menengah ke atas.

"Lalu apa keunggulannya? mereka akan memelihara passion dan chemistry," kata Karim saat dihubungi detikcom, Senin (23/2/2021).

"Tapi kelemahannya mereka tidak memiliki basis dukungan yang luas, ya karena datang dari kubu yang sama, akan sulit untuk meraih pemilih dari segmen yang berbeda. Itu menurut saya, itu plus minusnya, kalau dilihat dari pengalaman politik, walau Sandiaga Uno pernah nyalon sebagai wapres, tapi posisi RK sebagai gubernur akan menjadi nilai tambah untuk menjadi RI 1, tapi lagi-lagi komposisi menentukan basis dukungan itu digabungkan," kata Karim melanjutkan.

Idealnya, kata Karim, pasangan calon presiden dan wakil presiden harus berasal dari sisi ideologis dan kelompok yang berbeda. Laiknya saat ini sosok nasionalis Joko Widodo yang bersanding dengan sosok religius Ma'ruf Amin. Sosok keduanya pun relatif muda, dan dikhawatirkan muncul matahari kembar.

"Bagusnya itu kan utara dan satu selatan, satu barat, satu timur dari sisi geografis. Dari sisi ideologis, Kang Emil dan Sandi ini sama-sama nasionalis-religius, berada pada irisan tengah. Kemudian dari sisi usia sama, akan menimbulkan kekhawatiran di kalangan mereka yang mapan dari segi usia dan ekonomi, kesan anak muda yang progresif pada sisi lain akan dibaca sebagai ancaman keamanan yang bersangkutan, padahal pemilih dari segmen ini masih banyak," katanya.

Menurutnya, sekarang masih terlalu dini untuk mengorek-ngorek kans dan elektabilitas dari tokoh untuk maju ke Pilpres 2024. Pasalnya, saat ini suasana politik dan pemerintahan masih sangat cair. "Saya yakin partai politik pun belum ke sana, belum mencari figur, mereka masih memikirkan selamat, apalagi belakangan elektabilitas parpol menurun kecuali yang di luar pemerintahan," ujarnya.

Lihat juga Video: Prabowo-Ganjar-Anies di Lingkaran Pilpres 2024 Versi LSI

[Gambas:Video 20detik]



(yum/mso)