Harga Jual Gula Kelapa Anjlok, Perajin Pangandaran Merugi

Faizal Amiruddin - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 14:44 WIB
Seorang perajin asal Pangandaran tengah mencetak gula.
Foto: Seorang perajin asal Pangandaran tengah mencetak gula (Faizal Amiruddin/detikcom).
Pangandaran -

Harga jual gula kelapa di Pangandaran anjlok. Hal tersebut membuat petani penyadap nira kelapa dan perajin gula merah di beberapa Kecamatan di Kabupaten Pangandaran merugi.

Berdasarkan informasi, saat ini harga gula merah di tingkat perajin berada di angka Rp 8.600 per kilogram. Padahal sebelumnya harga jual tak kurang dari Rp 10 ribu per kilogram.

Pipih salah seorang perajin gula kelapa warga Kecamatan Cijulang, Pangandaran mengatakan harga gula saat ini di kisaran Rp 8.600 hingga Rp 8.900 per kilogram.

"Kemarin saya jual masih Rp 8.900, namun hari ini turun lagi. Tadi saya jual cuma Rp 8.600," kata Pipih, Selasa (23/2/2021).

Pipih mengeluh karena harga jual tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi yang mulai naik. "Sekarang harga kayu bakar saja sudah naik, rugi jadinya, boro-boro untung," kata Pipih.

Ironisnya Pipih mengatakan para perajin gula kelapa tak bisa berbuat banyak. Karena harga ditentukan pengepul. "Apalagi kami juga sudah pinjam uang ke pengepul sebelumnya, jadi sudah tak bisa apa-apa," kata Pipih.

Ketua Asosiasi Gula Kelapa Priangan Timur Joe Irwan mengaku kaget dengan anjloknya harga gula kelapa di tingkat petani. Dia tak menyangka harga jual jatuh begitu drastis. Padahal di tingkat pengusaha, harga beli gula kelapa masih di angka Rp 10.400 per kilogram.

"Nanti kami lakukan penelusuran. Namun rupanya ada yang tak beres di tingkat pengepul atau kami menyebutnya kolektor. Atau bisa jadi perajin itu terjerat praktek ijon, jadi posisi tawar mereka lemah," kata Joe.

Dia mengatakan sebenarnya ada aturan tak resmi di kalangan perajin gula merah. Bahwa harga jual gula merah itu harus sebanding dengan harga beras. "Aturan tradisionalnya begitu, ya sebanding harga beras kualitas medium," kata Joe.

Lebih lanjut Joe juga menjelaskan sebelum sampai ke tingkat pengusaha, jenjang distribusi gula dari perajin memang melalui satu atau dua orang pengepul, terutama bagi perajin yang tinggal di pelosok.

Selain itu Joe juga mengakui belakangan ini terjadi penurunan permintaan gula kelapa dari sektor industri, terutama pabrik kecap. "Ada penurunan permintaan dari industri, karena konsumen gula terbesar itu sektor industri. Hampir 80 persen pasar gula kelapa, masuk ke pabrik-pabrik. Ketika terjadi penurunan produksi kecap, maka terjadi penumpukan gula. Sementara produksi gula itu setiap hari, ya otomatis harga turun," kata Joe.

Namun Joe mengatakan seharusnya penurunan harga masih wajar, tak sampai Rp 8.600 per kilogram.

(mso/mso)