Diduga Depresi, Pemuda di Cianjur Potong Kemaluannya Sendiri

Ismet Selamet - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 13:37 WIB
BS, pemuda di Cianjur terbaring menjalani perawatan mandiri di rumah usai potong kemaluannya sendiri
Foto: BS, pemuda di Cianjur terbaring menjalani perawatan mandiri di rumah usai potong kemaluannya sendiri (Ismet Selamet/detikcom).
Cianjur -

BS (22) warga Warungkondang Cianjur, Jawa Barat, nekat memotong kemaluannya sendiri. Pria tersebut diduga mengalami depresi dan gangguan kejiwaan.

Informasi yang dihimpun, BS kerap melamun selama sebulan terakhir. Tiba-tiba beberapa hari lalu, BS memotong kemaluannya hingga putus.

"Kejadiannya beberapa hari lalu, saya juga dapat kabar dari keluarga jika BS memotong kemaluannya. Bahkan usai memotong kemaluannya dia langsung lari-lari bahkan sempat mendobrak kaca rumah miliknya," ujar Kepala Desa Bunikasih Memed, Jumat (19/2/2021).

Hal itu membuat keluarga serta warga sekitar panik dan berusaha mengamankan BS untuk segera dibawa ke rumah sakit. Namun keterbatasan alat membuat BS harus ditangani di Bandung.

"Kemarin dibawa ke RSUD tapi kata dokter di RSUD harus dibawa ke rumah sakit di Bandung. Jadi sekarang dibawa dulu ke rumah, untuk dirawat sementara di rumah," ujarnya.

Saat ini pihak desa tengah mencari dana untuk biaya pengobatan BS di Bandung. "Kami berusaha agar BS bisa segera mendapatkan penanganan medis yang sesuai," kata dia.

Memed mengungkapkan, BS yang tinggal bersama orang tuanya diduga mengalami depresi dan gangguan kejiwaan. Tetapi kondisi orang tuanya yang juga sakit parah membuat BS tidak mendapatkan pengobatan secara kejiwaan.

"BS ini alami depresi dan gangguan kejiwaan. Sehingga nekat memotong kemaluannya sendiri," kata dia.

Di sisi lain, Junaedi (29), sepupu BS menuturkan jika saudaranya itu belakangan sering melamun dan mengurung diri di kamar. Keluarga pun sulit untuk berkomunikasi dalam kondisi tersebut. "Terlihat murung, tapi dia tidak pernah mengatakan kenapa atau apa keinginannya," kata Junaedi.

Dia mengatakan saat ini BS hanya bisa terbaring dengan kondisi tangan diikat karena sering ngamuk-ngamuk.

"Sempat dilepas ikatannya, tapi BS ngamuk. jadi terpaksa kita mengikatnya," kata Junaedi.

Junaedi berharap ada bantuan dari pemerintah untuk pengobatan BS, baik pengobatan akibat kemaluannya yang dipotong ataupun pengobatan kejiwaannya.

(mso/mso)