Viral Pemasungan ODGJ di Bandung Barat, Begini Fakta Sebenarnya

Whisnu Pradana - detikNews
Selasa, 16 Feb 2021 13:45 WIB
ODGJ di Bandung Barat dipasung.
Foto: ODGJ di Bandung Barat dipasung (Whisnu Pradana/detikcom).
Bandung Barat - Jagat dunia maya dihebohkan dengan informasi soal pemasungan terhadap seorang pria warga Desa Sindangkerta, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, yang merupakan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Informasi yang diunggah oleh akun Facebook Nanang di grup Urang Bandung Barat, menyebutkan jika 'Pemerintah Desa Sindangkerta KBB Diduga Melakukan Pembiaran Pemasungan Terhadap Warganya yang Sakit Kejiwaan'.

Berdasarkan hasil penelusuran, pria yang dipasung tersebut bernama Bunbun Bunyamin (50), warga Kampung Pasirkihiang, Desa Sindangkerta, Kecamatan Sindangkerta, KBB.

Bunbun merupakan anak dari pasangan Hapid (76) dan Entin Kartini (75). Menurut penuturan Hapid, anaknya itu sudah mengalami gangguan kejiwaan sejak usia 19 tahun. Artinya, saat ini Bunbun sudah 31 tahun mengalami gangguan kejiwaan.

"Dari usia 19 tahun jadi sepertu ini (gangguan jiwa). Dulunya bekerja di pabrik pembuatan ban di Tangerang. Tiba-tiba dia pulang dalam kondisi seperti ini, ngobrol engga nyambung. Memang sebelumnya sempat cerita, stres di tempat bekerja," ungkap Hapid kepada detikcom, Selasa (16/2/2021).

Kondisi Bunbun kian hari tak menunjukkan perbaikan. Bahkan jika sedang kumat, dirinya kerap mengamuk dan melakukan perbuatan yang mengancam keselamatan keluarga, warga setempat, bahkan dirinya sendiri.

"Kalau kumat itu dia ngamuk, pernah ibu dilukai di pahanya dengan bambu, terus hampir membakar rumah karena merokok di tempat tidur, dan warga juga memang resah," kata Hapid.

Hapid mengaku sejak mulai mengalami gangguan jiwa, ia dan keluarga bolak-balik membawa Bunbun ke rumah sakit bahkan hingga ke pengobatan tradisional namun tak kunjung menunjukkan perubahan yang signifikan.

"Sudah beberapa kali dibawa berobat ke Rumah Sakit Dustira, RSJ, terus Bogor sampai keluarga menjual sawah. Tapi engga ada perkembangan dan malah makin parah," terangnya.

Tak punya pilihan lain, pihak keluarga akhirnya memilih mengurung Bunbun di dalam rumah. Beberapa kali Bunbun dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain sampai akhirnya ditempatkan di ruangan khusus dengan kakinya dirantai agar tak bisa berkeliaran.

"Kalau engga dibeginikan (dipasung) suka mengamuk, nanti bisa mengganggu keluarga sama warga di sini," jelasnya.

Sementara itu Kepala Desa Sindangkerta Eli mengatakan pihaknya tak melakukan pembiaran dengan tindakan pemasungan yang dilakukan keluarga terhadap Bunbun. Namun hal itu semata-mata merupakan upaya antisipasi sambil menanti kabar Bunbun bisa diobati di RSJ Cisarua.

"Awalnya tidak langsung dipasung, tapi semakin ke sini keluarga merasa terancam. Ini bentuk penyelamatan keluarga dan yang bersangkutan, akhirnya dibikinkan ruangan khusus dan kakinya dirantai," kata Eli.

Eli mengatakan pihak desa rutin membantu Bunbun untuk menjalani pengobatan baik di Puskesmas Sindangkerta maupun di RSJ Cisarua. Pemasungan yang saat ini diterapkan pada Bunbun pun merupakan keinginan pihak keluarga.

"Kita sudah ingatkan sama keluarga kalau pemasungan itu tidak boleh, tapi keluarga keukeuh karena merasa tidak aman kalau dibiarkan berkeliaran. Kita rutin membantu dia berobat, tapi memang hanya tiga hari normal, lalu nanti kumat lagi. Dan ini bukan sekarang saja, tapi dari dulu. Sekarang pun mau kita bawa berobat lagi, tapi kita tunggu informasi ketersediaan ruangan di RSJ Cisaruanya," tegasnya.

Lihat juga video 'Seorang Pria Dievakuasi dari Pemasungan':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)