Jabar Hari Ini: Jalaluddin Rakhmat Wafat-Cemarkan Nama Anggota DPRD Ibu Dewi Dibui

Tim detikcom - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 20:21 WIB
Jalaludin Rakhmat tahun 2012, memegang mikropon. (Ari Saputra/detikcom)
Foto: Jalaludin Rakhmat tahun 2012, memegang mikropon. (Ari Saputra/detikcom)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, Senin (15/2/2021) dari mulai Politikus PDIP Jalaludin Rakhmat meninggal dunia karena COVID-19 hingga pria bogem wanita di Bandung ditangkap.

Jalaluddin Rakhmat Meninggal Dunia Positif Corona

Cendikiawan sekaligus kader PDIP Jalaludin Rakhmat meninggal dunia setelah dinyatakan positif COVID-19 di RS Santosa Kota Bandung.

Penulis buku legendaris 'Psikologi Komunikasi' ini tutup usia, sore tadi sekitar pukul 15.23 WIB. Ia berpulang setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang diidapnya sejak lama dan juga keluhan sesak napas.

"Seminggu yang lalu dirawat, dari hari Kamis, berarti kurang lebih 12 hari yang lalu. Beliau ada sesak dan diabetes," kata Ketua PW Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) PW Jabar Sutrasno.

Ia pun meminta kepada jemaah di Indonesia, untuk turut mendoakan kepergian Kang Jalal menghadap sang Khalik. "Keluarga, Jemaah sekalian diharapkan untuk mendoakan beliau," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wuryanto mengatakan, Jalal meninggal karena positif COVID-19.

"(Karena) COVID-19," ucap Pacul sapaan karib Bambang Wuryanto.

Sementara itu elite PDIP lainnya, Hendrawan Supratikno mengatakan, tiga hari lalu istri Jalaluddin meninggal dunia.

"Betul. Tiga hari yang lalu istrinya," katanya.

PDIP merasa kehilangan dengan kepergian Jalaludin Rakhmat. Bagi PDIP, Jalaludin Rakhmat memberikan perkembangan pemikiran Islam khususnya di Tanah Air.

"Kami sungguh kehilangan tokoh yang gemar bertukar pengalaman dan gagasan. Beliau tokoh Islam yang inklusif, dan menaruh perhatian besar pada perkembangan peradaban Islam. Pancasila, modernisasi, perkembangan peradaban, religiositas, dan sastra, merupakan bidang-bidang yang menarik perhatian cendekiawan muslim ini,"ucapnya.

Kesaksian Bidan Bantu Perempuan Melahirkan yang Hamil 1 Jam

Seorang bidan Puskesmas Cidaun Riska Setiani kaget tidak kepalang, seusai membantu persalinan seorang perempuan yang mengaku hamil selama satu jam.

Riska mengisahkan, awalnya dipanggil keluarga Siti Zainah (25) untuk memeriksa perutnya yang terasa sakit. Menurutnya informasi dari keluarga, Siti diduga mengalami keram perut akibat menstruasi.

"Di rumahnya juga kan ada anggota keluarga yang merupakan perawat. Saya sempat komunikasi. Awalnya dikira keram perut usai makan batagor," kata Riska via sambungan telepon.

Saat memeriksa tensi, dia mendapati Siti sedang terlentang dengan posisi perempuan yang hendak melahirkan. Namun keluarga menyebut jika perempuan yang baru bercerai dengan suaminya sekitar 4 bulan lalu itu sedang menahan sakit.

Riska yang merasa curiga meminta rekannya mengecek bagian kemaluan Siti untuk memastikan. Ternyata Siti sudah pembukaan akhir dan tampak ada kepala bayi yang hendak keluar.

"Saya coba pastikan dengan alat deteksi jantung. Ada detak jantungnya. Begitu dilihat vaginanya juga sudah pembukaan dan ada kepala bayi. Baru dipastikan memang hendak melahirkan," tuturnya.

Proses persalinan cukup singkat. Dalam waktu 10 menit Siti melahirkan seorang bayi perempuan dengan bobot 2,9 kilogram.

"Persalinannya lancar dan cepat. Hanya sepuluh menit dengan persalinan normal, bayi perempuan lahir," kata dia.

Riska menyebutkan jika keluarga yang tengah berkumpul tampak kaget, sebab tidak menyangka jika Siti mengandung. Pasalnya selama 9 bulan tak ada tanda-tanda perempuan itu hamil. Apalagi setiap bulannya, Siti mengalami menstruasi secara normal.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Cianjur Teni Hernawati mengatakan kejadian dialami Siti itu tidak perlu dianggap aneh. Bayi itu lahir normal atau tidak prematur.

"Jadi dipastikan ada proses kehamilan secara normal, selama 9 bulan. Tidak tiba-tiba hamil dan melahirkan," ujar Teni.

Teni menuturkan Siti kemungkinan mengalami retrofleksi atau kondisi rahim terbalik. Akibatnya, kehamilan tidak akan terlihat seperti pada umumnya.

Menurut Teni, sebagian perempuan yang mengalami kondisi rahim seperti itu baru terlihat hamil setelah enam bulan, bahkan beberapa di antaranya memang tak terlihat hamil sama sekali. "Itu sering terjadi, secara medis disebut retrofleksi atau rahim terbalik. Saya pun mengalami hal itu ketika hamil, baru terlihat saat masa kandungan enam bulan. Apalagi kalau pakai pakaian yang lebar, semakin tidak kelihatan," tutur Teni.

Ia menjelaskan ibu hamil itu diduga juga tidak memiliki sensitif rahim yang baik, sehingga pergerakan janin tidak terasa saat mengandung. "Ada kondisi-kondisi seperti itu. Tergantung pada sensitif. Ada yang ketika ada gerakan di rahim terasa sakit, ada yang biasa saja," ujarnya.

Teni mengimbau agar masyarakat tidak terlalu heboh dengan kondisi tersebut. Dia juga mengingatkan publik untuk tidak mengaitkannya dengan hal mistis.

"Itu hal yang biasa, dan bisa dijelaskan secara medis. Karena memang ada kondisi kehamilan seperti itu," kataTeni menegaskan.

Simak video '375 Santri di Ponpes Tasikmalaya Positif Covid-19':

[Gambas:Video 20detik]