Kisah Bocah Pangandaran Bertahan dengan Kondisi Jantung Bocor

Faizal Amiruddin - detikNews
Kamis, 11 Feb 2021 16:46 WIB
Perjuangan bocah Pangandaran melawan kelainan jantung
Perjuangan bocah Pangandaran melawan kelainan jantung (Foto: Faizal Amiruddin)
Pangandaran -

Ahmad Septiana (9) bocah warga RT 16 RW 05 Dusun Cidahon Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran, saat ini tengah berjuang melawan penyakit jantung yang dideritanya sejak lahir.

Akibat penyakitnya itu, anak dari pasangan Rasimin (61) dan Masinem (55) ini jadi memiliki keterbatasan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dia tak bisa berlarian, bermain atau menjalankan kegiatan yang menguras tenaga. Jika memaksakan, Ahmad akan jatuh pingsan atau kejang-kejang.

Menurut Masinem, sejak usia 1 bulan Ahmad sudah memiliki kelainan pada jantungnya. Organ vital itu mengalami kebocoran. "Penyakit jantung bocor," kata Masinem. Meski dengan keterbatasan ekonomi, saat itu Masinem mengaku habis-habisan memperjuangkan kesembuhan anaknya. "

Saat usia Ahmad 5 bulan, Masinem membawa anaknya ke RS Hasan Sadikin Bandung. Ketika itu dokter menyarankan agar Ahmad menjalani operasi jantung di RS Jantung Harapan Kita Jakarta.
"Tapi biayanya mahal sekali, harus ada uang Rp 300 juta. Saya tak punya uang, suami saya hanya penderes nira kelapa," kata Masinem.

Akhirnya setelah memiliki BPJS, kondisi jantung Ahmad yang bocor disiasati oleh dokter dengan memasang alat pacu jantung permanen. Alat itu kemudian dipasang di sekitar dada Ahmad. Alat itulah yang kemudian bisa mempertahankan kinerja jantung Ahmad. Tapi dengan kondisi yang terbatas.

"Nggak boleh capek, kalau sekolah pun saya selalu menitipkan Ahmad ke gurunya agar dia diawasi. Supaya tidak diganggu oleh temannya. Karena kalau alatnya sampai tersenggol, Ahmad pingsan atau kejang-kejang," kata Masinem.

Masinem juga menjelaskan alat pacu jantung permanen yang terpasang di tubuh Ahmad membutuhkan perawatan. Setiap 5 bulan, alat itu harus diisi daya dengan biaya sekitar Rp 7 juta. "Setiap 5 bulan harus dicas, biayanya Rp7,7 juta," kata Masinem.

Masinem mengakui kepesertaan BPJS yang dimiliknya cukup membantu, tapi upaya pengobatan tetap saja membutuhkan biaya yang tak sedikit dan cukup merepotkan kehidupan ekonomi keluarganya. "Ya saya butuh bantuan untuk biaya pengobatan. Karena tidak semua ditanggung oleh BPJS," kata Masinem.

Dia juga mengutarakan impiannya untuk membawa Ahmad ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta untuk mengoperasi jantung Ahmad. "Impian saya kalau dioperasi mungkin Ahmad bisa hidup normal dan sehat. Bisa tumbuh besar dan beraktivitas seperti anak-anak yang lain," kata Masinem.

(mud/mud)