Pergerakan Tanah Terus Meluas di Sukabumi, PVMBG: Lambat dan Pasti

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 19:00 WIB
Pergerakan tanah di Nyalindung Sukabumi terus meluas
Pergerakan tanah di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Bandung -

Fenomena pergerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat kian meluas dari hari ke hari. Sejumlah rumah dan infrastruktur di kawasan tersebut dilaporkan rusak akibat retakan yang timbul.

Kepala Bidang Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto mengungkap hasil kajian sementara dari fenomena pergerakan tanah tersebut. "Tipe gerakan tanah ini bersifat lambat dan pasti," ujar Agus saat dihubungi detikcom, ditulis Minggu (7/2/2021).

Selain timbul retakan, warga juga mendengar suara gemuruh disertai getaran pelan di Kampung Ciherang. Kondisi itu membuat warga cemas, dan akhirnya 53 kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumahnya. Agus mengatakan, suara gemuruh tersebut kemungkinan berasal dari gerakan tanah.

"Bisa juga, karena terjadi pergerakan lapisan tanah permukaan secara bersamaan, perlu tinjuan ulang juga," kata Agus.

Berdasarkan laporan pemeriksaan PVMBG di Kecamatan Nyalindung pada 9 Mei 2019, kecamatan ini terletak pada potensi kerentanan tanah menengah. Artinya daerah yang mempunya potensi menengah untuk terjadinya gerakan tanah.

"Pada daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali," seperti disitat detikcom dari laman resmi PVMBG.

Relawan ProBumi Indonesia Asep Has mengatakan, kondisi pergerakan tanah masih terus terjadi. "Rumah milik warga sebelah timur anjlok setengah meter. Saat ini kerenggangan tanah terus bergerak melebar 20 sentimeter," kata Asep, Minggu (7/2).

Asep Has juga membenarkan soal getaran-getaran yang terasa hingga Pos Kebencanaan di lokasi tersebut. Terlebih saat hujan mengguyur titik bencana, meski tidak terdengar lagi suara dentuman getaran-getaran itu diyakini akibat pergerakan tanah.

"Faktor intensitas hujan, yang drainase masuk ke celah-celah retakan akibatnya tanah anjlok di beberapa lokasi. Ada satu unit rumah dibongkar, karena sudah tidak layak untuk di huni. Di sebelah barat sudah ada retakan setengah meter dan sudah benar-benar masif. Kalau malam, getaran juga terus terasa terlebih ketika hujan," lanjut Asep.

"Relawan dan warga bergeser dari zona merah karena pergerakan yang masif. Untuk penanganan-penanganan masih dilakukan evakuasi material yang membahayakan di lokasi," sambungnya.

(yum/mud)