Cerita Warga Saat Sesar Lembang Bergetar di Kampung Muril

Whisnu Pradana - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2021 11:23 WIB
Seismograf, alat pencatat getaran gempa, Ilustrasi gempa bumi
Foto: Seismograf, alat perekam getaran gempa (Robby Bernardi/detikcom)
Bandung Barat -

Engkom bersama suami serta anak dan cucunya melepas lelah duduk bersantai di ruang tengah rumah, Kampung Muril RW 15, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Saat itu Kamis 28 Agustus 2011, pukul 15.00 WIB,

Dua hari menjelang Idul Fitri, kala itu, Engkom dan warga kampung lainnya disibukkan memasak hidangan yang akan disediakan menyambut sanak saudara dan kerabat. Suasana tenang nan tentram seketika berubah panik dan histeris. Gempa berkekuatan 3,3 magnitudo mengguncang Bandung Barat, khususnya Kampung Muril tempatnya bernaung sejak kecil.

Sekadar diketahui, Kampung Muril berada tepat di garis Sesar Lembang segmen tengah yakni wilayah Cisarua. Engkom merasa lantai rumahnya menghentak ke bawah seperti amblas. Perabot rumahnya berjatuhan menambah kengerian. Tembok retak, pasirnya berjatuhan.

Nenek itu tergopoh-gopoh berjalan keluar dari rumahnya yang teramat sederhana. Badannya sudah membungkuk, suaminya yang masih lebih sehat sigap membantu. Lindu susulan tak berhenti bergetar membuatnya bergidik.

"Emak keluar rumah dibantu suami sama anak karena dari dulu sudah bongkok jadi agak susah berjalan," kenang Engkom yang kini menginjak usia 79 tahun kepada detikcom, Sabtu (29/1/2021).

Cerita Warga Soal Sesar LembangEngkom, warga Kampung Muril, Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)

Di luar, keriuhan serta kepanikan tergambar jelas dari raut wajah tetangganya. Engkom hanya bisa berzikir menghamba pertolongan dari yang kuasa. Bersama warga, dirinya beringsut menuju titik evakuasi mencari perlindungan.

Usai kegemparan, ia dan warga lainnya menghabiskan tiap malam hingga merayakan lebaran Idul Fitri di pengungsian. Tak terasa, dua bulan lamanya Engkom dan warga menjadi 'penghuni' tenda.

"Engga kebayang sama sekali harus tidur dan lebaran di pengungsian. Sampai dua bulan di tenda, soalnya enggak berani tidur di rumah. Beberapa hari setelah gempa masih suka terasa ada getaran," kata Engkom yang hingga kini kerusakan rumahnya gegara gempa bumi belum diperbaiki.

Dari catatan BPBD KBB, setidaknya ada enam hingga delapan rumah yang mengalami rusak berat hingga bangunan ambruk dan tak bisa dihuni lagi. Sementara rumah yang mengalami kerusakan sedikitnya ada 105 rumah.

10 tahun berlalu, warga Kampung Muril tetap mengingat gempa Sesar Lembang membuat mereka terhenyak hingga lari tunggang langgang. Awal 2021, warga kembali dibuat resah dengan munculnya kabar Sesar Lembang yang tengah dalam fase tidur panjang bisa melepaskan energi pada tiga segmennya sekaligus hingga menimbulkan gempa bermagnitudo 6,8. Jauh lebih besar dari yang pernah dirasakan warga Kampung Muril pada 2011 silam.

Mereka berharap gempa Sesar Lembang tak sampai kejadian. Namun di satu sisi, warga sudah belajar memitigasi bencana minimal untuk diri mereka sendiri jika memang Sesar Lembang bangun dari masa hibernasinya.

Cerita Warga Soal Sesar LembangGunung Batu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Gunung ini titik Sesar Lembang yang paling terlihat jelas. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)
(bbn/bbn)