Keluarga Pasien COVID-19 di Bandung Harus Bayar Jutaan Rupiah untuk Jasa Angkut Jenazah

Wisma Putra - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 18:07 WIB
Jasa angkut jenazah pasien covid-19 di TPU Cikadut Bandung
Foto: Wisma Putra/detikcom
Bandung - Pemakaman jenazah pasien COVID-19 menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, pada praktiknya, keluarga pasien harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk jasa gotong peti jenazah dari area parkir hingga liang lahat di TPU Cikadut, pemakaman khusus pasien COVID-19 di Bandung.

Tiga hari lalu, keponakan Tisna, yang merupakan warga Karangsetra, Kota Bandung, dimakamkan di TPU Cikadut. Keponakannya yang berumur sekitar 42 tahun itu meninggal di Rumah Sakit Hermina Pasteur, Jumat (22/1), dan langsung dikuburkan di TPU Cikadut sesuai protap COVID-19.

Namun hari ini hasil swab keponakannya itu keluar dan hasilnya dinyatakan negatif. Penyebab kematian keponakannya adalah komplikasi sejumlah penyakit.

Tisna menyebut, saat pemakaman, tidak ada pemungutan biaya dari rumah sakit. Namun pihak keluarga harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah saat di TPU untuk biaya jasa gotong jenazah pasien corona.

"Tidak, cuma jasa itu (gotong jenazah), memberi kepada yang gotong Rp 1,3 juta, ditawar jadi Rp 1 juta, tidak keberatan, katanya mau diganti oleh pihak rumah sakit tinggal diperlihatkan kuitansinya," kata Tisna kepada detikcom saat melayat kuburan keponakannya untuk menabur bunga di TPU Cikadut, Senin (25/1/2021).

Dari informasi yang diperoleh, jasa angkut jenazah pasien COVID-19 ini juga ada yang harus membayar Rp 2 juta hingga lebih.

Seperti diketahui, posisi tempat pemakaman jenazah COVID-19 di TPU Cikadut ada di bagian belakang dan untuk sampai ke lokasi dari tempat parkir harus berjalan sekitar 300 meter, mengitari jalan setapak dan sedikit menurun.

Menurutnya, atas pertimbangan keluarga, pihaknya memilih membayar jasa gotong jenazah. Sebenarnya bisa saja jenazah digotong pihak keluarga, tapi pihak keluarga memilih menggunakan jasa tersebut karena sudah mengetahui situasi TPU Cikadut.

Tisna mengaku tak keberatan membayar sebesar itu. "Tidak, kalau sendiri (gotong jenazah) berabe," ujarnya.

Ia menyebut memilih memberikan bayaran untuk menggotong jenazah keponakannya selain beratnya peti jenazah dan juga karena khawatir. "Selain berat, risi juga (takut kenapa-kenapa)," tambahnya.

Karena keponakannya sudah dinyatakan negatif, pihaknya berencana dalam waktu dekat akan memindahkan kuburan keponakannya itu ke Karangsetra. Namun belum diketahui kapan pemindahan kuburan tersebut.

"Mau dipindahkan, ke Karangsetra di Sukajadi," ujarnya. (wip/ern)