Kasus Corona Melonjak, Ruang Isolasi RSUD Berkah Pandeglang Penuh

Rifat Alhamidi - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 19:36 WIB
RSUD Berkah Pandeglang tempat penampungan jenazah korban tsunami anyer
RSUD Berkah Pandeglang (Foto: Uyung/detikHealth)
Pandeglang -

Ruang isolasi untuk perawatan pasien Corona di RSUD Berkah Pandeglang, Banten saat ini sudah terisi penuh. Bahkan sejak awal Januari 2021, rumah sakit plat merah tersebut sudah tidak sanggup menampung adanya penambahan pasien yang terpapar COVID-19.

"Iya, semenjak ada lonjakan kasus, ruang perawatan di rumah sakit sudah penuh. Sudah tidak bisa nampung lagi," kata Humas RSUD Berkah Pandeglang dr. Achmad Chubaesi saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (19/1/2021).

Pria yang akrab disapa Ubes ini merinci, ruang isolasi untuk pasien Corona di RSUD Berkah Pandeglang memiliki kapasitas hingga 13 kamar. Setiap kamarnya, hanya diisi oleh satu pasien yang harus menjalani penyembuhan COVID-19.

Sementara, jika situasi ruangannya sudah tidak bisa menampung pasien lagi, pihaknya terpaksa merujuk pasien tersebut ke sejumlah RS yang masih memiliki kapasitas ruang perawatan. Seperti RSUD Banten dan RSDP Serang.

"Jadi kalau misal di sini sudah penuh, kami coba cari tempat di rumah sakit lain. Tapi selama ini biasanya kami rujuk ke Rumah Sakit Banten," ujarnya.

Kondisi ini, turut dibenarkan Direktur RSUD Berkah Pandeglang Dr Kodiat Juarsa. Kata dia, tadinya rumah sakit ini memiliki 16 kamar untuk merawat pasien Corona. Namun, terpaksa harus dikurangi setelah sejumlah tenaga medisnya satu persatu ikut terpapar virus tersebut.

"Awalnya kan ada 16 kamar, tapi setelah itu dalam perjalanannya banyak tenaga medis yang ambruk. Sehingga kami harus mengurangi kapasitas kamarnya karena keterbatasan tenaga medis tersebut," katanya.

Kodiat menyebut, di tengah keterbatasan tenaga medis, trend pasien COVID-19 di RSUD Berkah terus mengalami peningkatan. Sehingga pihak rumah sakit menerapkan sistem shift dengan jumlah 6 jam kerja supaya para tenaga medis bisa mengatur pola kesehatan secara teratur.

"Dari awal tahun trend-nya meningkat terus, keluar masuk, sehingga kami harus mengatur jam kerja. Intinya sekarang, petugas kesehatan sudah kelelahan, kewalahan, ada juga yang pada tumbang jadi kami atur shiftnya," bebernya.

(mud/mud)